Siapa yang patut disalahkan jika REYOG kita diklaim menjadi milik orang lain-dalam arti milik negara lain?
Saya, Nana, sekarang memang tidak berada di tanah air. Itu bisa Anda baca dari blog saya yang memakai nama "risnakorindo" yang berarti risna korea_indonesia. Korea disini bukanlah negara gingseng sana melainkan kota reyog asli, hehehe ... Ini adalah lomba ketiga saya yang saya ketahui setelah waktu mendekati habis. Apakah lomba ini akan berakhir seperti lomba pada bulan oktober 2007 dan 0ktober 2008 lalu? Entahlah ...
Saya sudah terlalau lama meninggalkan kota tercinta saya ini sejak 24 September 2002. Dan selama itu pula hanya info dari adik dan teman yang sedang pulang kampung saja saya bisa menikmati kembali kota kelahiran saya itu. Jujur, saya sangat rindu pada keluarga, teman sepermainan _ kecuali teman sekolah hehehe, ngebel, lapangan Jenangan, SMAZAPO plus guru-gurunya, warung bakso Pak Ji dan masih banyak lagi.
Sudah berapa kali saja saya ketinggalan momen penting yeng terjadi enam tahun terakhir ini. Klasik memang untuk saya ungkapkan, saya terpaksa meninggalkan keluarga demi 'EKONOMI'. Memalukan memang untuk dibicarakan! Ah sudahlah! Toh saya masih dalam tahap mengejar ketertinggallan saya, baik itu pendidikan, info dan tehnologi, ekonomi dan art.
Akhir Desember dua tahun lalu, saya yang di perantauan ikut kelabakan mendengar berita yang yeleneh, Ponorogo kerendem banjir. Alhamdulillah, rumah saya di puncak bukit nun tinggi sekali, so bebas dari banjir. Saya sulit percaya, apalagi lokasinya di daerah tengah ke barat. Kalau di dusun embah saya mah udah biasa kena banjir. Lha ini? Rumah bulik yang berada di jalan Imam Bonjol kerendem separoh. Saya hanya menertawakan _maaf_ itung-itung nggak usah ngecat udah berwarna coklat! Ini adalah Bentuk teguran Tuhan agar kita senantiasa ingat bahwa pada dasarnya kita lahir nggak bawa apa-apa. Kita kembali pada_Nya pun nggak bawa apa-apa _ kelak. Makanya, yang berpunya harap bagi-bagi sama yang ga punya biar adil makmur sentosa- Weleh-weleh kaya ustadhah yang nyalon jadi bupati ajah!
Sebulan kemudian, adik nyang sekolah di IPB_Bogor ngasih info nyang ga kalah heboh.
REYOG DI KLAIM JADI KESENIAN ASLI MALAYSIA.
Lho, kok bisa? Ya, bisa. Apa sih yang ga bisa di dunia ini? Tunggu! Jangan asal cari kambing hitam, cari kambing coklat aja yang udah ga laku saat hari qurban lalu. Gini, kita klarifikasi dulu akar permasalahnya.
Menurut hemat saya yanghanya bisa melihat dari jauh, ini adalah efek dari keteledoran kita. Rupanya benar kata Pak Utomo guru matematika SMAZA yang dari Tulung Agung itu. Kita nggak akan bangga pada kesenian kita kalo kita belum meninggalkan Ponorogo. Lha beliau saja yang notabenenya suami dari perempuan Ponorogo saja bangga kok, kenapa kita yang asli dlondonnge warrok kok ga bangga? Sungguh suatu yang sia-sia!
Kenapa? Karena kita sudah biasa dengan pertunjukan reyog, acara grebeg suro dan pernak pernik Ponorogo lainnya. Semestinya kita melakukan apaaaaaaaaaa gitu! (apaan sih maksudnya 'apa' itu?) Misalnya saja gebrakan yang dilakukan oleh Bapak Hariadi(guru fisika) dalam membentuk JATIL GANESHA SMAZA GROUP (ini namanya ngarang_tapi memang group jatil ini pernah saya lihat dengan mata kepala sendiri di tahun 2000-3003). Beliau ingin 'membersihkan' citra jatil dengan cara hanya memperbolehkan jatil-jatil Ganesha tampil di forum-forum yang 'bersih' dan 'tempat terhormat'. Boleh juga kita tengok http://www.manggoloputro.co.nr/ yang merupakan tempat ngumpul dlondonge warok di Bogor yang sregep ngadain acara-acara yang ngusung Kesenian kita ini tampil di Bogor. Tanggapan pemerhati kesenian dan warga setempat ruarrrrrr biasa. Mereka terkagum-kagum dengan REYOGnya, jatilnya, sate kambingnya, jarik batiknya dan pada mahasiswanya yang begitu mencintai satu-satunya seni 'aneh' di dunia ini. BRAVO!!!
(Menang atau tidak menang suatu lomba_apalagi lomba ngeblog_ tidaklah suatu mas-lah besar dalam diri saya. Toh, tak akan berpengaruh besar pada pekerjaan saya sekarang yang sama sekali tidak menuntut keahlian 'memegang' komputer atau ahi ngenet.)
Saya cuma mau nitip salam buat temen seperjuangan di kelas 1.7 dan 2.7 yang sekarang ada di dinas pariwisata Ponorogo, Indra_anak Jetis. Semangat, Friend!!!
Sekarang, Saya tetaplah saya yang sering ketinggalan info dan telat mengetahui adanya suatu perlombaan. Seperti tahun lalu dimana sebelum grebeg suro _di forum 'cah ponorogo'_ Saya membaca adanya lomba bikin logo. Saya berminat dan hanya sampai disitu tindakan saya. Oleh karena itu, saya berharap pada pembaca sekalian hendaklah memberi info pada Saya akan adanya lomba yang berhubungan dengan dunia tulis menulis.
Saya terpompa dari sanjungan guru bahasa Indonesia saya sewaktu di SMP N 5 Ponorogo, Bapak Indarto Bandono, yang merangkap menjadi wartawan suatu lembaga penyiaran via kertas. Waktu kelas tiga (beliau mengajar saya di kelas 2 dan 3 SMP), beliau membimbing kami, kelas 3 Pl.B, membuat suatu makalah tentang kistrik dan dampaknya. Dari satu kelas, saya berhasil masuk menjadi satu-satunya tulisan yang memenuhi syarat untuk di sebut makalah. Beliau menghadiahi saya sebuah buku_maaf judulnya lupa yang pernah saya pinjamkan pada Indra sebelum mengikuti lomba ayu-ayunan se_ponorogo_ dimana buku itu menceritakan asal muasal REYOG, tempat-tempat asyik di ponorogo dan Ponorogo itu sendiri. Rupanya buku itu dilahirkan oleh 5 penulis hebat yang berdomisili di Ponorogo dan mereka berprofesi sebagai wartawan. KEREN, loh!
Jika beliau sendiri yang membaca tulisan ini, juga guru-guru di SMAZA, saya menghaturkan; terimakasih yang tak terhingga wahai para pahlawan tanpa jasaku!
