2009年1月9日星期五

Puisi untuk cintaku


Rindu hambaR



dari Jendela ke dua puluh dua

Kedua tangan mengHiba-Hiba

memohon uluran tangaN

tarikLah aku dari lembah RinDu



Disini, keluh KesaH Tak lagI berguna

hitam Putih melebur bersama

Pahit maniSku tak bisa terkecap



Hambar sudah rinduKU padamu

jatih terurai menjadi DEBU

keringat dan air mata terasa sama

terKUrung dalam kabut waktu



SungguH Kuingin bertanYa

masihkan Ada Aku disana?

2009年1月7日星期三

Cinta Bujur Sangkar

Cinta Bujur Sangkar
By : Nana Korea

Kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Mataku menatap lurus atap. Disana tergambar wajahmu yang sedan tersenyum. Wajah yg kunikmati sendiri, seharian, 2 bulan sebelum keberangkatanmu. Kuraih bantal. Kuletakkan tepat pada mukaku yg menutupi lubang pernafasanku. Aku remas2 bantal yg telah menemaniku 8 bulan terakhir. Disana tercipta pulau jadi2an dibalik sarung bantal. Bukan air liur. Melainkan bagaimana mudahnya mata ini membasahinya di malam2 menjelan tidur saat mengingatmu.
Aku duduk dengan menggantungkan kaki di bibir ranjang. Krrkkk ... Bunyi pintu terkuak. Kulihat wajah Mifta muncul dengan t-shirt biru lautnya.
"Dari tadi diketok2 kok nggak jawab. Sori gue lancang secara gue liat loe barusan masuk kamar"
"Butuh pasokan logistik lagi? Tuh di kardus Aqua di bawah meja, ambil ndiri"
"Tau aja!" Kuperhatikan dia dari tempat tidurku bagaimana dia menobrak-abrik kardus itu. "Gile ... Kaga' ada apa2. Jatah logistik loe abis juga". Tak kujawab. Toh dari miggu kemarin kardus itu kosong. Tak ada biskuit ato cemilan penganjal perut.
"Oia, gimana tadi hatnya?". Aku mengalihkan pembicaraan.
"Nggak gimana-mana" ucapnya seraya merebahkan tubuknya didekatku. Kurasa dia sama capeknya denganku hari ini.
"Jawab loe gitu, pasti gimana-mana. Gue udah kenal loe dari SMA. Tau nggak, loe tuh ekspresif. Pokoknya ngga bisa nyembunyiin prahara di hati loe deh"
"GUE ... HAPPY ... BANGET". Kutolehkan wajahku kearahnya. Dia pun menoleh ke arahku. Terlihat sebuah senyum di bibirnya. Aku ikut tersenyum. Entah, senyum apa ini, hambar. "Dia tadi nembak gue. Dia langsung call gue saat itu juga. Dan gue ... nerima dia"
"Selamat yaaa. Makan2 dungs"
"Makasih, Masalah makan2 tar bisa di atur. Engg ... Loe tadi juga ke warnet, ditembak juga?"
"Sapa bilang ke warnet trus ngechat pasti ditembak! Yng jelas ke warnet tuh ngenet bukan ngecat"
"Eman kuli, ngecat. Tadi loe kan disamber Jay?"
"Emang. Just say hi, aja kok. Nothing special. Udah ah, jangan bahas ginian, gue lagi pusyiiiiiing nyari bahan buat ikut lomba esay. Itung2 nyoba bakat didunia tulis menulis"
"Masuk koran kampus aja. Gue ada temen disana, kali ja bisa bantu"
"Wah ... Asyik tuh"
***

"Dinda. Dinda". Pundakku digoyang2kan seseorang. "Loe tidur apa tidur?"
"Udah ngiler" jawabku asal. Terang aja dia nanya gitu. Lihat posisiku, duduk di kursi dengan kepala diletakkan di atas meja belajar dengan buku2, kamus, kertas dan alat2 tulis lainnya berserakan mengitari kepalaku.
"Kenapa sih dari kemarin ngga ada semangat sama sekali? Come on, cheer up, GIRL!" Aku masih tak berubah dari posisiku tadi. "Jangan2 koran kampus mlonco elo"
"Mifta, ini ngga ada hubungannya dengan koran kampus. Gue cuma grogi deket2 ma cewek yang kelebihan hormon estrogen kaya elo, hehehe ..." . Mulutnya mengerucut. "Bukan. Gue, FAIL IN LOVE"
"Ah, bahasa inggris loe tuh salah, yang bener FALL IN LOVE"
"Dengerin, FAIL IN LOVE bukan FALL IN LOVE"
"Kok mendadak gini? Gue ngga pernah liat loe ada signal mau putus?"
"Begitulah". Lalu kuceritakan semua detail chatku dengan Jay di warnet Jum'at lalu pas bareng2 dia. "Gue digantung"
"Loe bilang, just say hi aja"
"Gue berada pada salah satu sudut sinta bujur angkar"
"Gue udah ngerasa ada yang ngga beres pada cinta kalian. Pas loe crita2 di Monas itu, juga bagaimana komitmen hubungan kalian, pokoknya serba ngga jelas. Apalagi loe pernah bilang katanya loe ngga boleh berharap terlalu lebih ke dia. Oh ... Ternyata ini endingnya. Sadar ngga sih, dia tuh udah nembah panjang daftar cewek2 patah hati"
"Gue ngga ngerasa dimanfaaitin dia kok, apalagi diporotin. Lagian gue ngga punya apa2. Dia ntuh gentle"
"Loe aja yang ngga ngerasa"
"Pokoknya, gue musti merevolusi prinsip2 hidup gue. Mungkin ada benarnya bahwa cinta itu tak harus memiliki. Mencintai sesama makhluk itu semu.Gue telah menemukan cinta sejati gue. Karena dengan mencintai-Nya, Dia pasti balas cinta kita. KIta ngga bakal patah hati atau cinta bertepuk sebelah tangan. Dia pun tak akan meninggalkan kita. Yang ada adalah kita sebdiri yang menjauh dan meninggalkan Dia. Gue ngerasa dekat dengan-Nya kalo gue bisa mencintai-Nya dengan segenap jiwa"
"Siapa?"
"Mencintai Alloh. Biarlah cinta ini gue titipin ke Dia"
"Kalimat loe barusan familiar banget"
"Nih, baca!". Kusodorkan novel Ayat-Ayat Cinta karya Kang Abik.
***

"Assalamu' alaikuum. Jay ..."
"Wa'alaikum salam"
"Nyampe mana?"
"Di depan kost loe. Coba deh keluar". Tanpa berpikir panjang aku berlari kesetanan menuju gerbang kost dengan handphone yang masih aktif. Bodo amat bila Jay mendengar nafasku yang ngos2an.
Benar. Seorang cowok berkulit sawo matang yang yang bermata indah nan perfect, santun, baik dan SHOLEH! berdiri dengan posisi menghadap pintu menyambut kedatanganku. Di balik pagar besi, jelas terlihat wajahnya yang bersih berseri seperti wajah yang rajin dibasuh air wudlu. Aku turunkan kecepatan langkahku. Aku teliti kostumkuhari ini. Sporty. OK, tak memalukan buat jalan bersamanya. Pun tak lupa, ransel hitam kegedean nangkring manis di punggungku yang senantiasa menemani tiap2 perjalananku.
"Ready?" tanyanya dalam telfon meskipun kita telah berhadap2an.
"Yuks". Hp baru aku offkan.
Aku mengenalnya 2 bulan lalu saat kita sama2 mudik dengan kereta jrusan Surabaya. Entah bagaimana, pas aku balik lagi ke Jakarta, di stasiun Tugu-Jogja, kita ketemu lagi. Sebuah ketidak sengajaan yang berbuah cinta.
"Jadi ke Monas?"
"Ngga ah, kita ke warteg aja. Perutku udah keroncongan". Aku melongo!". "Kalo udah kenyang kan enak jalannya. Loe belum sarapan kan?" aku mengangguk malu. Ucapannya ini melegakanku.
Kita berdua masuk warung tenda di jalan WR.Supratman. Gile bener nih cowok! Dia lalap habis 10 tusuk sate Mang Udin, bersih, beserta sambelnya. Dia ngga pake malu2 apalagi jaim. Nikmat sekali kelihatannya. Aku hanya pesen teh manis hangat dan makan 2 potong gorengan. Aku sudah merasa kenyang lihat nafsu makannya yang lagi rakus2nya.
"Kok liatin gue terus?"
"Ih, sapa loe. GR banget!"
"Heran ya liat gue yang muka tembok model kuli gini cara makannya". Tau aja isi hatiku. "Ini kan makanan halal, kalo ngga dihabisin, MUBADZIR. Sapa tau berkahnya ada di suapan terakhir"
Aku jadi inget cerita dia pas di mondok dulu.Katanya, para santri disitu berebut makanan sisa Kyia disitu. Ngga ada perasaan jijik tuh katanya. Bukan sisa yang kotor memang. Tapi, sang Kyai hanya nyicip tuh makanan dikit aja. Kita niat, nyari berkah!_selain emang ngga nyia2in makanan.
Ketika mentari hampir tegak diatas kepala, kita sampai juga di Monas. Untung hari ini "mesin" yang mbawa kita ke puncak Monas pas buka. Setelah beli tiket 2 lembar, kita ngantri. Ya ampyuuun, segini panjang antriannya, lebih panjang daripada antri suply BBM.
Kita benar2 berada diatas. Sejauh mata memandang, kita disuguhi pemandangan kotak2 bangunan Jakarta. Indah-menurutku. Disebelah sana terlihat area istana negara dan stadium Senayan. Namun, sedikt ngeri bila memandang tepat ke bawah. Taman yang dineriahkan anak2 muda untuk memadu kasih itu kelihatan angker bila dilihat oleh makhluk yang takut ketinggian. Bener, ini yang kedua kali aku ke Monas, taoi ini pertama kali aku sampai di puncak Monas. Eniwe, demi Jay - dan memang ingin melihat Jakarta dari atas- aku tebas rasa takutku.
Kita berdua menepi. Memendang wajah Jakarta dibalik kaca tembus pandang. Sesekali dia tersunyum, sedang aku mati2an menyembunyikan fobiaku.
"Dinda, tempat ini pengen gue jadiin tempat kenangan gue setelah Jogja"
"Maksudnya?"
"Gue ngrasa, sejak pertemuan kita di kreta dulu dan kejadian setelahnya, loe adalah soulmate gue. Apa yang gue cari di cewek ada di elo"
"Maksudnya?" ini hanya untuk mengulur kata agar dia berbicara lebih panjang lebar lagi.
"Di sini, di puncak Monas ini, gue minta loe jadi pacar goe. Gue sayang ma loe. Gue cinta ma loe"
Deg.
Apa?
Bener ngga sih apa yang barusan aku dengar? Tu ngga Jay, aku tuh cinta mati ke kamu. At first sight malah. Tapi ... bukankah elo jebolan pondok, apa loe lupa ato pura2 lupa apa pacar itu? Trus gimana pandangan Kyai loe di pondok sana kalo tau salah satu santrinya PACARAN!
"Apa Jay, loe omong apa barusan?"
"Gue pengen loe jadi pacar gue. Loe mau?"
"Mau. Gue mau, mau banget." Gue juga ngrasa apa yang loe rasa. Gue juga sayang, gue juga cinta ma loe, selamanya.
Tak ada adegan peluk2an apalagi kiss2an seperti di sinetron2 TV itu. Hanya keheningan ditengah kebisingan pengunjung puncak Monas.
***

"Din, gue mo jujur ama loe" ucapnya sambil memainkan hp di tangannya.
"Oh, Jay resek nih. Berarti selama ini loe ngga jujur ma gue"
"Bukan gitu sayang. Loe tau kan gue pernah ngomong ke loe, gue pengen jadi anak berbakti, sama kaya elo. Gue uda ngga ada nyokab, Din, Tinggal bokap dan kakak gue yang cewek yang jadi figur gue selama ini. Tau ndiri kan, gue jegan bukan anak konglomerat. Gue pengen Mbalik omongan tetanga yang nyepelekin gue, gue nggga bakal sukses karena gue anak petani gurem yang hanya jebolan pondok"
"Jay, anjing menggonggong kafilah tetap berlalu"
"Bulan 12 ini kakak gue nikah, untuk sementara, dia dan suaminya tinggal serumah dengan ayah selaa gue ngga di rumah, karena gue mo ke Mesir"
"Mesir?"
"Iya, gue dapet beasiswa study di Azhar"
"Loe ke Azhar? Sekolahnya Fahri di Ayat2 cinta itu". Dia mengangguk. "Hebat, loe. Ntu kan univ tertua di dunia. Kampusku aja lewat!". Aku membanyol untuk menyembunyikan perasaanku yang belum siap ditinggalkannya. "Kapan berangkat?"
"Lusa gue masuk karantina 6 minggu. Abis itu langsun terbang ke Mesir. Jadi, hai ini adalah hari terakhir gue jalan ma loe"
"Apa Jay? Loe ngga bisa keluar sebentar selama karantina? Trus berapa lama loe bakal study di sana?"
"Dari telfon yang gue trima kemarin, selama karantina ngga boleh ada kunjungan ataupun izin keluar kecuali yang bersifat urgen aja. Kalo lancar, insya Alloh, gue disana 4 tahun. Tapi yai gue pesen, kalo bisa, gue nyari beasiswa lagi dan nerusin S2 sekalian. Gue pengen ngamalin ilmu gue buat ngajar santri gue di pondok sekalian nyambi terjemahan"
"Mungkin ngga ya loe bakal terpesona ama Cleo?"
"Walloh "alam. Kalo gue ketemu mumi Fir'aun, loe nitip salam ngga?"
Aku pukul manja lengannya. Sontak di menghindar, malah mencekal mesra tanganku. Ditatapnya mataku lekat2. Luluh lantak hatiku menangkis sorot mata elangnya.
"Din, gue minta loe jangan berharap lebih ke gue, juga ama hubungan ini. Secara kita bakal berpisah begitu lama. Banyak hal yang bakal terjadi esok"
"Jay .."
"Loe tenang aja, Dinda sayang, gue masih pegang prinsip gue. Gue ngga bakal nyakitin cewek. Gue ngga bakal mutusin hubungan karena kalo putus gue ngga bakal nyambng lagi"
***

"Tar sore da kuliah ngga, Din?"
"Mang napa, Mif?"
"Kita ke warnet yuk, temenin gue chat. Gue apet gebetan, anak UI-Depok. Pi ... Ntu tadi, masih sebatas hubungan maya belum ketemu langsung". Mata mifta berkejap2 membayangkan hal yang menjadi impianya. Yah ... impian.
Waktu yang dimaksud tiba. Mifta begitu asyik ngechat dengan manusia mana, macam apa dan siapa di layar komputernya. Dia menikmati sekali detik2 ini. Mungkin itu yang dimaksud dennga gebetannya tadi. Aku? Jangan salah, aku juga sedang memelototi layar komputer di depanku. Cuman ... Aku hanya mendengarkan lagu2 hits di youtube.com .
"Din, Din. Liat sapa yang nyamber gue" pundakku ditepuk2 Mifta dari samping. Buru2 kucopot headset. "Dia Jay, Din, cowok loe yang di Mesir ntu. Cepetan on". Lalu kumasukkan id dan password di Y!M. Berderet offline messages dari id yang belum kukenal. Tapi id ini yang nyamber Mifta barusan, jay_nood_117.
jay_nood_117 : JN
dinda_dinda : DD
JM : assalamu 'alaikum
DD : wa'alakum salam
JM : ini Jay. kabar baik kan, Din?
DD : yup. alhamdulillah ya kariim
JM : yee, plagiat
DD : kan Jay ndiri nyang yebarin virus alhamdulillah ya kariim
JM : gimana studynya?
DD : lancar, alhamdulillah ya kariim. ujian kali ini soalnya gampang2
JM : syukurlah
DD : tapi ...
JM : tapi paan?
DD : jawabnya nyang susah
JM : sama, disini soalnya lebih susah daripada di pondokwalo jagi do kandang sendiri pi kalo uda di Azhar ngga da pa pa nya
DD : jadi ambil tarbiyah?
JM : setelah baca banyak buku dan nanya sana sini, gue nemuin apa nyang gue cari. gue jadi ambil filsafat
DD : kok?
JM : filsafat ntu induknya ilmu2. mau jadi apapun kalo pegang ilmu ini bisa enak. mo jadi guru, guru yang berfilosof. jadi sastrawan, sastrawan yang berfilodof. jadi maling pun kalo pegang ilmu ini jadinya maling yang berfilosof dah
DD : paan tuh maling yang berfilosaf
JM : maling nyang nyuri hati elo, Din
DD : kalo malingnya elo, gue langsung lapor ma ortu gue sekaligus ortu loe, kalo perlu ngadain jumpa pers, nyusup2 di web2 dunia biar semua orang tau, loe adalah pencuri hati gue
JM : hehe
JM : gue mo nanya, loe mau jawab dengan jujur?
DD : OK
JM : loe bener2 cinta cinta gue?
DD : yup
DD : gue cinta mati ma loe, selamanya
JM : loe juga mau denger crita gue
DD : crita paan?
JM : loe juga percaya kalo crita ini adalah kejujuran gue?
DD : jujur ato ngga yang tau hati masing2
JM : setelah 8 bulan disini, ada 3 cewek yang posisinya sama kaya elo
DD : .... ????
JM : yang pertama elo. yang kedua, si A, temen seangkatan gue pas terbang kesini, juga study di Azhar. yang ketiga, si B, dia di Surabaya, posisi dia uda ditunangin ma gue tanpa sepengetahuan gue beberapa bulan ini. gue ngga mau dikatain anak durhaka kalo sampe membangkang wasiat terakhir ayah gue. ayah uda wafat, Din
DD : innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun
DD : kapan?
JM : bulan lalu, darah tingginya kambuh
DD : yang tabah, Jay
JM : makasih, Din, gue bingung nentui salah satu dari ke3 cewek ntu. prinsip gue ngga memungkinkan gue nyakitin cewek! gue ngga mau mutusin cewek!
***
To : jay_nood_117
cc :
subject : nih keputusannyaasslm ,,,
Jay, pa kabar? semoga Dia senantiasa melimpahkan Taufik Hidayat (nih pemain bulu tangkis favourite gue), maksudnya; melimpahkan taufik dan hidayah buat kita2, amiin ya kariim.
Gue, Dinda, beserta keluarga di rumah, ada; bapak, ibuk, adek, embah kakung, embah putri, yayut putri, semuanya sehat wal 'afiat. Pun yang di kost WR.Supratman, ada; semut (gue), sapi (mifta safi'i), duck (alin), ayam (java) dan kadal (eka), kita2 baik2 adanya. Maaf banget kalo jadinya malah kaya ngabsen kebun binatang gini_aslinya model majalah TRUBUS! Wakakakakkkkkk .....
Jay yang selalu di hati gue
Gue sangat menyesal dengan keputusan ini. Pokoknya gue udah narik benang merah mengenai crita loe pas Jum'at lalu. Dengan berat hati gue nyatain HUBUNGAN KITA SAMPAI DISINI. Loe ngga usah ngrasa kasihan ke gue. Karena cinta sesungguhnya berasak dari hati bukan belas kasihan. GUE YANG MUTUSIN! Jadi loe ngga perlu mglanggar prinsi2 loe.
Jay yang selalu di hati gue.
Gue sadar bahwa konsekuensinya; GUE NGGA BAKAL BISA BALIK LAGI KE LOE sebagaimana prinsip loe. Gue ihlas (oh, engga ding, masih dalam tahap belajar ihlas). Mencintai tuh ngga harus memiliki karena mencintai itu pengorbanan, ngorbanin kebahagiaan gue demi kebahagiaan elo.
Mungkin gue ngga nyelesaiin 100% masalah loe. Tapi loe ngga perlu confuse nentuin 3 pilihan. Gue harap loe dapat tersenyum dengan pengunduran diri gue karena loe tinggal milih 1 dari 2.
Jay yang menjadi prince gue.
Secara sadar ato tidak, loe tuh udah ngajarin gue bahagia, ngajarin goe menderita, ngajarin gue untuk gentle ngadepin masalah, loe juga yang bentu ngedewasain gue ngeliat dunia.
Prince Jay.
Gue minta loe jangan terlalu mikir masalah ini. Pusatin fikiran, waktu dan tenaga loe buat study loe. Loe ingat kembali tujuan dan harapan loe study di Azhar. Loe ngga mau matahin harapan almarhum/ah ayah dan ibu loe, kyai2 loe di pondok, sobat2 loe di Indinesia (termasuk gue) agar loe sukses disana. Hidup, jodoh, rizqi uda digariskan ma Dia.
Tolong, inget, Jay! Kesempatan yang loe dapet musti loe manfaatin sebaik2nya. Ngga semua orang dapet kesempatan kaya loe. Tenang aja, Jay, gue bukan orang ekstrim, bukan pula eskrim. Gue tetep aja Dinda yang dulu, sobat loe yan di Jakarta.
Beloved Prince Jay.
Gue sadar, cinta pada manusia pada hakikatnya akan hilang. Gue uda temukan cinta sejati gue. Gue temukan dengan cara mencintai Dia sepenuh hati. Tiap saat nginget dia. Dengan begitu, Dia bakal balas cinta kita. Kita juga ngga perlu ngrasain patah hati kaya gini, cinta bertepuk sebelah tangan apalagi sampai ditinggalin Dia. Yang ada adalah kita sendiri yang enggan ngejemput cinta Dia. kita ndiri nyang menjauh dan meninggalkan Dia.
Prince kusayang.
Gue minta maabh dengan sangat bila sekarang gue nempatin cinta loe diurutan kesekian dibawah cinta gue sama Dia. Dialah nyang nerangin kegelapan hati gue. Dia segalanya buat gue.
Prince ...
Jya ne'. Sayonara.Wasslm ,,,

***


"Din, liat, paan coba" Mifta mengibas2kan selembar kertas berbentuk persegi panjang.
"Tau. Tanggungan utang logistic di warung Pok Atiek kali". Udah sedikit berkelakar ney, suasana hati udah ngga berkabut lagi.
"Asal loe. LIat baik2. Ini tiket nonton Ayat2Cinta. Tadi pacar gue nyamperin di gerbang kampus"
"Apa??? Si Arya jauh2 kesini demi selembar tiket ntu?"
"Yup" kepala Mifta membengkak. "Gue beruntung banget dapet cowok yang sangat perhatian kaya Arya. Yah ... Walongga secaket Thomas Jhorgi tapi dia ngga malu2in loh buet temen jalan. Nih buktinya, tiket gratis, Din"
"Telat loe, Mif. Jaringan network dan wireless gue uda nembus berbagai dimensi. Internet ato VCD bajakan udah beredar dan .... alhamdulillah ya kariim, gue uda liat filmnya ampe tuntas"
"Tapi loe belum baca ini khannnnnnnnn" dirogohkan sesuatu dari tasnya.
"KETIKA CINTA BERTASBIH"
"Ampyuuun ... Jangan Mesir lagi, dunks! Gue uda khatam 100X"
"Jadi, loe sensi nih ma Mesir?"
"Ngga hanya Mesir tapi semua nyang berbau Mesir
"Maaph. Maaph" ucap Mifta sambil nyembah2. Aku sakit perut menahan tawa.