2008年12月26日星期五

Gagal total (DT)

Dukuh Tambang
By: Nana Korea

"Mekaten loh, Pak. Penambangan pasir di sungai yang dilakukan terus menerus akan mencabut pagar betis sungai. Jika terjadi banjir, aliran sungai bisa keluar jalur sehingga menghantam sisi kiri kanan ruas sungai". Aku sengaja tidak memakai kata erosi karena bapakku belum akrab dengan istilah itu.
"Kula miris melihat rumah Mbah Jarno yang di pinggir sungai itu. Tiap tahunnya jarak sungai dengan dinding rumahnya semakin dekat" lanjutku.
"Nduk, awakmu ki ngga usak banyak cing cong. Lihat dirimu, kamu bisa seperti sekarang juga karena tambang pasir itu. Sepetak ladang singkong di belakang rumah kita tak akan mampu membiayai sekolahmu".
Skak mat.
Aku mati langkah. Benar sekali kata-kata bapak. Pangkatnya sekarang sudah tinggi. Saking tingginya tak ada yang bisa melengserkan posisi beliau walaupun itu memakai nama orde baru atau orde reformasi. JURAGAN PASIR. Whusysy ... hebat toh! Tak perlu sekolah tinggi apalagi pelantikan ala militer seperti di TV-TV. Masyarakatlah yang menyematkan gengsi itu didepan nama bapak.
Beliau asli petani, tepatnya buruh tani. Tapi sejak aku kelas satu SD, ibu bekerja di Hong Kong. Hasil yang diinvestikan hingga sekarang adalah dengan pengadaan colt ompreng yang diambil dengan mencicil. Aku tak tahu pasti bagaimana model pencicilannya. Yang aku tahu, kami dijerat cicilan selama 5 tahun dengan membayar sekian juta rupiah pada dealer.
Colt itulah yang digunakan untuk mengangkut pasir dari penambang ke pembeli. Juga batu koral yang merupakan hasil lain sungai itu. Seolah-olah sungai itu adalah sumber penghasilan tambahan penduduk sini,
Kalau dilihat dari atas dengan ketinggian 1500 kaki, dukuh ini mirip hutan mini yang menaungi atap-atap rumah penduduk yang menghitam karena termakan usia. Lebuh mudahnya digambarkan seperti daerah cekung yang dikelilingi dataran tinggi. Rekonstruksi yang aneh. Letaknya juga tidak strategis. Dukuh ini bernama dukuh Guwa_berasak dari bahasa Jawa untuk kata gua ( bukan gua-gua, elu-elu). Tapi dalam perkembangannya lebih dikenal sebagai dukuh tambang karena kebanyakan masyarakatnya menambang pasir diantara kesibukannya bertani atau berladang.
Juga disebut dukuh Guwa karena daerahnya yang menjorok masuk kedalam. Hanya ada satu jalan keluar masuk menuju dukuh itu. Dukuh yang dikelilingi bukit mengakibatkan jalan yang menghubungkan dengan kampung lain menanjak tajam.
Ditengah-tengah dukuh terdapat aliran sungai yang mengalir dari hulu di timur membelok ke selatan di tengah-tengah Gunung Pegat dan kembali menuju hilir di barat setelah membelok di kaki Gunung Pegat barat. Keanehan aliran yang membujur dari utara ke selatan sepanjang Gunung Pegat menurut cerita rakyat untuk membagi rata daerah kekuasaan seorang raja yang sakti mandra guna dimana raja itu memiliki dua putra kembar yang dua-duanya menginginkan kedudukan ayahnya. Sehingga, satu-satunya gunung yang dimiliki dibelah menjadi dua yang disebut Gunung Pegat ( gunung pisah).
Di sisi kiri kanan sungai di yang memanjang dari utara ke selatan itu ditumbuhi aneka hasil ladang, seperti: ubi, jagung, singkong, talas, garut, dan kacang tanah. Ladang-ladang ini murni pengairan dari Tuhan. Penduduk belum berfikir ataupun sudah berfikir tapi belum terealisasi_ menyedot air sungai dengan diesel sebagai sumber pengairan di musim kemarau. Toh begitu, model becocok tanam mereka sudah canggih disesuaikan dengan musim.
Ladang-ladang penduduk ini didapat secara turun temurun. Sebagaimana nenek dari garis ibu mendapatkannya dari ayahnya yang asli penduduk situ. Sedangkan kakek dari garis ibu adalah pendatang dari Solo. Beliau terpaku di dukuh ini karena tanpa sengaja masuk dukuh ini dimana beliau mencari daerah persembunyian dari pengejaran penjajah Jepang. Karena kepincut nenek, setelah merdeka, beliau memilih menekuni ladang warisan embah buyut yang kebetulan hanya memiliki satu anak, yaitu nenek.
Satu-satunya jalan keluar masuk dukuh ini pun terkenal angker. Jalan ini tak tampak layaknya pada umumnya. Jalurnya yang berkelok-kelok dan tepat di tanjakan yang menikung di jalan masuk terdapat jurang menganga dengan tanah cadas gersangnya. Hanya pagar bambu usang yang menjadi penanda dibawahnya adalah jurang dengan kedalaman 900 meter. Tanjakan itu sepanjang sepanjang 1500meter. Namun kira-kira di tengah tanjakan kita akan disuguhi pucuk-pucuk bambu yang hijau dan rimbun menyenbul dari balik dinding jurang karena pokok pohon itu berada disana.
Sedangkan di kanan jalan ditumbuhi semak belukar yang berselang-seling dengan segerombolan pohon bambu sebagaimana di kiri jalan. Jika tertiup angin gesekan-gesekan antar pohon bambu akan menimbulkan suara semacam jeritan. Belum lagi pohon jati, akasia, mahoni, petai cina tumbuh liar dengan diameter pohon setangkup tangan orang dewasa. juga bongkahan-bongkahan batu besar berserakan di ladang penduduk dan tanah tak bertuan sebagainana yang terlihat di kaki gunung berapi yang tidak aktif lagi.
Dulu, tempat yang paling angker adalah di tanjakan ini. Pohon-pohon besar menaungi tanah yang istilah kerennya berkanopi tinggi sehingga sinar matahari sulit menyentuh kulit bumi. Apalagi berdirinya sebuah relief kepala singa barong di kaki tanjakan menambah kesan angker, Jika malam tiba, kepala singa barong seolah-olah hidup dikarenakan sorot lampu atau senter yang dipantulkan oleh dua buah kelereng yang disematkan diatas relief itu sebagai bola mata. Benar-benar seperti singa kelaparan. Bukan tanpa tujuan dibangunnya relief ini. Relief ini adalah penanda selamat datang di dukuh Guwa di kabupaten Ponorogo yang terkenal dengan REYOG itu. Inilah bentuk kepedulian penduduk atas kesenian khas daerahnya.
Kemudian berjarak 5 meter di atasnya di tengah-tengah tanjakan, ada sebongkah batu sebesar kepala truk kontainer diam di kanan jalan. Bentuknya seperti limas segi tak beraturan yang diletakkan terbalik. Sehingga salah satu sisinya menukik dan sisi yang lain menggantung. Pada sisi yang menggantung itu, tiap pagi akan meneteskan air yang diproduksi dari embun tebal yang menyelimuti dukuh ini. Sehingga memberi kesan seperti batu menangis.
Jika hujan deras bagian bawah batu itu mampu menangkis air hujan. Namun tak seorang pun berani berteduh dibawahnya. Mereka akan bilang takut kualat sama penunggu batu itu. Ya, begitulah alasan khalayak umum. Tapi bagi generasi selanjutnya yang hidup di abad 21 punya alasan yang kukira lebih logis. Berteduh di bawah batu sebesar itu disaat hujan turun dikhawatirkan akan tertindih batu itu sendiri kalau-kalau sinar arrasy Tuhan memerintahkan batu itu bergerak. Bentuk yang seperti limas terbalik itu tidak stabil. Pun kalau stabil dikhawatirkan di tempat itu banyak binatang melata ikut berteduh disana, seperti: ular, kalajengking, kaki seribu atau yang lain.
Sekarang hanya tinggal beberapa onggok saja batu serupa yang tersisa di dukuh ini. Itupun yang berada di tempat-tempat keramat. Sedangkan batu-batu besar yang duduk manis di ladang atau tanah lapang tak bertuan telah dihancurkan menjadi koral.
Seperti yang Saya tulis tadi, sengai yang membelah gunung Pegat adalah nadi kehidupan dukuh ini. Di era 80-an dimana penambangan pasir belum menjadi tren, aliran sungain ini begitu jernih, tenang dan menyejukkan. Aku masih menyaksikan beberapa penduduk yang menanfaatkan alirannya untuk keperluan MCK Mandi Cuci Kakus. Syukurlah pengetahuan mengambil air bersih dari sumber air atau sumur-sumur telah diketahui sehingga tidak menjadikan air sungai sebagai pelengkap dapur.
Bila ufuk timur berwarna jingga, bersaing dengan terbitnya surya, bapak-bapak dan ibu-ibu tani dengan "pakaian dinas" lengkap plus alat-alat bercocok tanam bertolak ke arah barat. Biasanya mereka bergerombol 5 atau 6 orang. Mereka menyeberangi sungai satu persatu melewati satu-satunya jembatan penyeberangan . Indah, bak peragawan peragawati berjalan di atas catwalk. Kemudian menanjak di kaki gunung Pegat barat terus naik didataran atas dimana sawah-sawah mereka terhampar disana. Anak-anak mereka yang sudah tak bersekolah baik yang sengaja keluar, lulusan SD, SMP, SMA, wajib mengikuti jejak pekerjaan mereka atau menekuni ladang/kebun di belakang rumah mereka. Ya, memang tak ada pilihan pekerjaan lain di dukuh ini.
Bila matahari tegak di atas kepala, di beberapa tempat strategis kegiatan mandi siang adalah adegan selanjutnya. Rata-rata hanya kaum pria yang berani mandi bugil di siang bolong seperti ini. Itu pun tak banyak karena di dekat sumber-sumber air (sumur) sudah berdiri kamar mandi darurat yang berdinding anyaman bambu (gedheg). Sedangkan tempat penampung airnya adalah gentong besar yang dilubangi disisi samping bagian bawah. Pada lubang itu dijejali selang untuk memberi kesan seperti pancuan. Kalau toh tak ada gentong, biasanya memakai ember besar dengan gayung batok kelapa made in sendiri.
Selepas dzuhur, giliran lisang kali sebutan untuk anak-anak usia SD yang gemar menghabiskan waktu main di sungai memenuhi areal sungai dimana bapak-bapak tadi mandi. Mereka akan memanfatkan gedebog pisang sebagai perahu atau bermain perosotan dari daratan terjun ke sungai. Begitu riang mereka bermain air. Jika merasa lelah, segerombolan lisang kali tadi akan dengan sendirinya berhenti bermain melanjutkan acara flying kite di tanah lapang tak bertuan di dataran atas di dekat tanjakan jalan masuk dukuh ini,
Aku, makhluk yang takut air dan tak bisa berenang selayaknya teman-teman sebayaku hanya menyaksikan adegan itu sambil duduk di atas batu besar di pinggir sungai. Batu besar itu wajib dijaga keberadaan dan kebersihannya demi penonton setia seperti aku.
Matahari yang kian condong ke barat memamggil makhluk berkaki empat lain yang antri mandi disini. Sapi, kerbau, kambing adalah spesies selanjutnya yang memanfaatkan sungai ini sebagai kolam mini anugrah Tuhan. Semburat kuning keemasan yang makin lama berubah jingga terlukis indah di langit menambah keceriaan sore ini.
“Tapi, Pak” lanjutku.
“Sudahlah, Nduk. Kamu itu bocah wadon, ngga usah banyak tolah, ora becik” Bapak berlalu sambil menghisap rokok klobot jagung, made in sendiri juga.
Aku tidak puas dengan pendiskrimimasian model ini. DISKRIMINASI GENDER. Aku memang perempuan, so what?
Aku berdiri menyapukan pandangan ke seisi ruangan. Lalu aku berjalan menuju sepeda mini butut yang terparkir manis dibawah pohon mangga. Besi yang membentuk badan sepeda sudah berkarat. Usianya baru saja melewati 2/3 usiaku. Aku kayuh pelan disepanjang jalan yang masih berupa tanah itu.
Semakin kukayuh semakin aku jauh meninggalkan kediamanku. Dari seberang sayup-sayup terdengar deru mesin kendaraan. Aku hafal dengan suara ini. Mungkin itu colt bapak yang pulang dari antar pasir. Duh, bagaimana ini? Andai kalian tahu, jalan utama di dukuh ini yang hanya bisa dilewati satu kendaraan roda empat saja. Tak mungkin aku berbalik arah mendahului laju kendaraan itu. Pun tak mungkin aku berhenti di pinggir jalan karena bisa saja body kendaraan itu menyenggolku. Dengan terpaksa aku bersama sepeda miniku menengelamkan diri dalam got di pinggir jalan.
Tak bisa kubayangkan jika sekarang adalah musim penghujan. Tentu got ini akan tergenang air bah yang berwarna coklat lumpur dan kotor.
Ya, colt bapak melewati tempatku berdiri. Kulihat Kang Karji dan Kang Aris duduk di depan. Di belakang, bersama cangkul dan skop, si Wawan duduk meringis sambil melihat keadaanku yang menyedihkan.Sepintas lalu saja kuperhatikan mereka. Buru-buru kuangkat lagi sepeda miniku dengan susah payah ke jalan utama. Baru aku ancang-ancang duduk di atas sadel sepeda, bunyi mesin motor terdengar mendekat ke arahku. Mesin sepeda motor, begitu hasil yang kucerna setelah beberapa detik menganalisa bunyi itu.
Aku urung bergerak ketika motor itu berlalu di sampingku. Tak berselang lama, motor itu berbalik arah dan berhenti di kananku. Reflek aku menoleh.
Nampak perfect si pengendara itu duduk di atas motor. Tubuhnya tampak berisi. Dadanya busung. Kostumnya hari ini kemeja press body kuning gading tak bermotif dengan dua kancing baju teratas dibiarkan terbuka. Ada saku di dada kiri yang terlihat lebih gemuk dibandingkan dada kanan. Entah dia mengantongi apa aku sempat melirik bagian itu yang jelas bukan mengantongi uang (hehehe).
Perlu diketahui, atasan ini dimasukkan sebagian ke dalam celana panjang coklat pekat dengan garis setrikaan yang masih tertinggal didaerah paha sampai ke bawah. Disambung dengan high heels coklat berbahan dasar kulit buaya imitan. Siapa gerangan?
Dia membuka helmet. Ohoho … wanita misterius ini adalah Henry si pemegang ketiga rangking besar saat SD dulu bersaing bersama Rudi dan Singgih. Mereka bertiga adu otak memperebutkan tempat te di kelas. Aku? Aku hanya pelengkap buku absen dan tukang cuap-cuap/cheer leaders paling gila yang berada di front Henry sesama gender.
“Hayu, gimana kabarnya?” kalimat itu terlontar dengan ringan berbaur dengan deru motor yang belum di-off-kan. Aku tersenyum sambil mengangkat kedua pundak dan menunjuk-nunjuk telingaku. Dia tanggap dan mematika mesin kendaraannya. “Gimana kabarnya?” dia mengulangi pertanyaannya beberapa detik lalu.
“Baik. Kamu?”
“Seperti yang kamu lihat!” dengan senyum 1/2 hati yang terefleksi dengan terangkatnya 1 sudut di bibir kanannya.
“Sukses ya sekarang. Ngantor dimana?”
“Pemkab, Dinkesra” Oh, pantas sekali, dia kelihatan sangat sejahtera. “Mau kemana?”
Deg. Oia, aku tadi mau kemana?
“Nyepi” dengan mimik menahan malu sehingga terlihat seperti manusia yang terkena gangguan mental.
“Kenapa? Marah sama ortu? Sama pacar?” Aku menggangguk.” Dari dulu kebiasaanmu kok nggak berubah. Gimana kalo aku ajak ke tempat favorit kita” Duh malu sekali, mungkin yang tergambar di wajahku adalah warna kepiting rebus.
“Tapi …” kalimatku terhenti. Aku malah menyaksikan bagaimana seorang Henry memarkir motornya di bawah pohon akasia.
“Turun!” perintahnya ini aku turuti dengan pasrah seperti orang kena gendam. Kemudian dia menggelendeng sepeda mini karatan itu di samping motornya. Dia tambatkan disana sebagaimana yang dilakukan pada motornya dengan gembok yang sebelumnya telah diambil dari jok motor. Setelah merasa aman dan telah mencabut kunci yang tertancap diantara stang motor kita mulai melakukan penjelajahan.
“Kita jelajah sungai kita”
“Dengan kostum kamu yang seperti itu?Ry, jangan ngaco! Kamu akan kaget melihat keadaan sungai kita”
Dia diam. Terus saja dia menelusuri jalan pintas yang penuh semak dan ilalang. Aku mengguntitnya. Sesekali tanganku tergores oleh daun-daun ilalang yang tipis kurus memanjang. Kami menuruni bibir jurang disisi tanjakan. Kemudian menelusup diantara pohon-pohon bambu yang tumbuh bergerombol disana sini. Rumput di bibir sungai terlihat hijau. Berbeda dengan ilalang tadi yang kering kekuningan dan kerdil.
Kami terus berjalan hingga sampai dibebatuan besar dimana aku biasa menyaksikan lisang kali beraktifitas. Juga si putih tinggi besar (sapi) atau si bule, eh salah, buluk gemuk besar (kerbau) juga si jenggot panjang (kambing) dimandikan oleh si empunya. Kami terdiam diatas lempengan batu itu. Aku tak tahu apa yang difikirkannya. Yang jelas, saat ini aku mengamati aliran sungai yang tak lurus membujur dari utara ke selatan. Sekitar 7 meter di kiriku alirannya membelok ke timur sekitar 3 meter dan kembali lagi pada jalurnya setelah mengalir 3 meter dari belokan pertama. Entahlah. Aku sendiri susah menggambarkan karena otakku sedang dipenuhi dengan fikiran-fikiran bagaimana caranya agar sungai ini terselamatkan.
“Yu, kalo boleh sharing, kamu kenapa?”
“Ngga napa-napa. Aku tadi sempet berbeda pendapat dengan Bapak. Aku ngga mau kehilangan kealamian sungai ini. Tapi … aku ngga puas dengan pernyataanya pun tak berkutik pula dengan sanggahannya. Aku ngga mau penambangan pasir ini menyebabkan erosi yang berkelanjutan. Ingetkan Desember lalu sebagian daerah di kota kita tergenang banjir? Tau kenapa? Karena alam marah, langit menangis! Hutan-hutan digunduli. Sampah-sampah menyumbat aliran air. KESETIMBANGAN EKOSISTEM KACAU, Hen!"
"Endingnya, manusia lagi yang menanggung akibatnya. Aku ngga mau ini terjadi pada dukuh Guwa. Letak geografis dukuh ini ber peluang besar akan hal itu. Dukuh ini terlalu indah, terlalu damai, terlalu banyak kenangan untuk ditenggelamkan air bah”
“Gitu ya” Apa? Tau nggak Hen, aku tuh capek menahan gejolak hatiku ini. Tapi jawabmu “gitu ya”. Maksudmu apa?
“Maaf Ibu Dinkesra. Saya bicara pada Anda dengan amat sangat serius sekali. Sebagai partner curhat, sebagai sohib, sebagai rakyat yang ingin didengarkan keluh kesahnya”
“Trus …” aku semakin kesal dengan sikapnya yang cool ini. Ingin rasanya aku cuci otaknya dengan air raksa agar memori-memori error lenyap seketika. Mulutku terbuka bersiap-siap untuk menukas balik. Tapi ... tak sepatah kata pun keluar. Yang terlihat adalah seorang gadis 20-an tahun yang melongo seperti melihat artis pujaannya lewat di depan mata. Akhirnya ...
"Penamangan pasir harus dihentikan!" ucapku mantab lebih dari mantap dengan sorot mata tajam ke depan.
"Sadarkah apa yang kamu katakan itu, friend! Lihatlah pengangguran di dukuh kita. Ladang-ladang menyempit. Tanah-tanah lapang ditanami rumah. Populasi meningkat. Usia produktif (15-35 tahun) bisa disearp dengan lapangan kerja bernama tambang pasir itu. Penambangan ini relatif aman, tak berlimbah,bebas dari zat-zat kimia dan gas beracun serta banyak menyerap tenaga kerja. Ini adalah proyek percontohan yang bakal sukses".
"Tau nggak, Yu, daerah kita selain terkenal sebagai kota REYOG juga termasuk 3 daerah terbesar penyuplai tenaga kerja ke luar negeri"
"Ini aset, Yu! Ini akan memajukan daerah kita, menyejahterakan masyarakat kita!" Oh, ini rupanya buah pemikiran salah satu orang penting di dinkesra. Kalimat yang keluar adalah menyejahterakan masyarakat. Benarkah kehidupan TKI di luar negeri sana benar-benar sejahtera?
"OK! OK! MENYEJAHTERAKAN MASYARAKAT!" aku menghela nafas.
"Jujur, akupun dlondonge eks-TKI. Aku juga hidup dari tambang pasir itu. Tapi, dimanakah sungai kita yang jernih dan bening itu?" mataku menyapu pandangan. Disana-sini terdapat gundukan pasir dan koral telah siap disulap menjadi lembar-lembar rupiah. Cekungan-cekungan merata di badan sungai sebagai arena penambangan. Kita berdua terdiam.
"Mungkin yang bernasib baik, hidup di kota lebih menjanjikan daripada hidup di dukuh ini. Hidup menjadi TKI lebih nikmat dari pada memeras okol menjadi pengeruk pasir. Ya, inilah fenomena dukuh Guwa".
"Wahyu, nikmatilah masa kejayaanmu menjadi putri juragan pasir. Masyarakat kita adalah pekerja keras. Begitulah cara mereka mengais rizki Tuhan. Kalo mau sungguh-sungguh berusaha, Tuhan akan memberi imbalan yang setimpal".
Benar! KALO MAU BERSUNGGUH-SUNGGUH, TUHAN AKAN MEMBERI IMBALAN YANG SETIMPAL. Aku akan tetap mencari solusi masalah ini. Insya Alloh. Dia akan menjawab.
TW. 27-08-08