2008年12月24日星期三

Cerpen yang gagal cetak (MM)


Manusia Maya
by : Nana Korea
Tombol berwarna merah kutekan. Seketika layar TV di depanku mati. Serasa membosankan aktifitasku akhir-akhir ini. Waktu cutiku hanya kuhabiskan di depan TV pujaan, pulau kapuk impian, dan toilet idaman. Orang tuaku tak tahu kenapa aku ambil cuti begitu lama, hampir 3 bulan. Mereka mengira aku MD (mengundurkan diri) dari tempatku kerja.
Segera ku bangkit. Namun, kuurungkan niatku dan kembali duduk di sofa sambil memeluk bantal bergambar mickey mouse itu.
"Nduk! Ada yang mau Ibu bicarakan sama kamu" ucap Ibu yang mengambil duduk tepat disebelahku. Aku bertingkah seolah tak mengacuhkan ucapannya. Pasti mengenai si Muhsin, anak Pak Haji Ahmad itu lagi.
"Kamu kan sudah besar, Bapak sama Ibu juga pengen menimang cucu. Jadi, bagaimana menurutmu dengan obrolan kita kemarin? Menurut Ibu Muhsin itu baik, juga cakep!" serasa ingin muntah aku mendengar sanjungan Ibu buat "calon idaman" yang seyogyanya buatku.
"Ibu! Jaman gini kok pake jodoh-jodohan segala sih. Aku ngga bisa cari sendiri apa? Lagian aku udah kelihatan tua banget ya, aku masih nunggu dia, Bu"
"Si Rio, manusia yang kamu kenal dari komputer itu? Sampai kapan kamu mau nunggu dia? Bertemu pun belum pernah, begitu percayakah kamu padanya? Sekarang ini surat atau telpon pun tak pernah ada dari dia. Masa selama kamu kuliah hingga kerja pun tak ada yang mampu menggantikan posisinya dari hatimu?"
"Mungkin aku gila, aku tergila-gila padanya. Aku lebih memilih manusia mayaku yang bernama Rio itu daripada Muhsin, Bu"
"Dari kemarin itu terus jawabmu" Ibu kelihatan jengkel lalu berdiri meninggalkanku.
Sembari kurenung ucapan Ibu, fikiranku kembali ke masa lalu. Yah ..... Masa itu dimana aku mengenal Rio. Rio yang berasal dari kota sebelah yang menuntut ilmu di kotaku. Saat itu dia dan Om Wisnu, adik kandung Ibu, adalah teman sekelas. Begitu lulus, keduanya pergi mengadu nasib ke negeri Jiran-Malaysia. Mereka bekerja di sebuah pabrik pengalengan. Aku yang gemar corat coret sering mengirimkan hasil karyaku ke Om Wisnu sebagai pengobat rindu keluarga. Tetapi, malah Rio yang tertarik dengan karyaku. Setelah OmWisnu pulang ke tanah air, karyaku seolah seret, hubunganku dengan Rio pun padam seiring kesibukan baruku di bangku kuliah.
Aku hanya mengambi D3. Namun aku sangat bersyukur karena mendapatkan rekomendasi dari kampus sehingga memudahkanku mendapatkan pekerjaan. Dalam waktu itu tak ada lagi surat dari Rio dan aku sendiri berfikir dia hanya bagian dari masa laluku. Kini aku bertugas di Ambon untuk tugas pertamaku.
Hingga suatu ketika, kubaca sebuah email yang ternyata dari Rio. Dia mengatakan bahwa selama 2 tahun terakhir ini dia berada di Tokyo sebagai TKI. Dia mengatakan kesulitan mendapatkan info, alamat, serta nomor telponku, yang akhirnya dia peroleh secara lengkap dari Om Wisnu. Hubungan kami yang semula beku kini mencair lagi.
Ingin sekali kutolak hubungan maya ini. Tapi aku begitu menikmatinya. Nikmat? Kenikmatan seperti apa? Aku tak peduli. Aku merasa ringan bila meluapkan semua uneg-unegku padanya. Kami pun saling bertukar cerita, foto, dan file-file pribadi. Dan aku mempercayainya! Geli juga kurasakan hubungan seperti ini.
Pernah suatu ketika dia mengajakku bermain chat. Namun, aku bisa menolaknya dengan halus yang pada kenyataannya aku belum siap bertemu dengannya walaupun via dunia maya. Berbagai jurus dia keluarkan untuk memanas-manasiku termasuk omongannya yang mengatakan bahwa lulusan kampus favourite dengan nilai yang cumlaude seharusnya bias main chat. Lho, memang harus! Walaupun lulusan kampus favorit tapi hasil ip-nya jeblok bukan lagi cumlaude malah jadi kemelud, iya kan!
Bulan Desember itu kubuka email dari dia. Dia menyatakan bahwa akhir bulan ini dia akan kembali dari Tokyo. Hanya itu bunyi emailnya. Ketakutanku muncul lagi. Apalagi sekarang aku sudah pindah tugas ke Surabaya. Jujur, aku belum siap bertemu dengannya. Sebenarnya, ketakutan utamaku adalah impian-impian yang kubangun di dunia maya akan sirna jika aku berkaca pada dunia nyata. Aku benar-benar tidak bisa!
Dan hari ini menginjak mingu ke-3 bulan Maret. Berarti, hampir 3 bulan dia berada di tanah air. Selama itu pula tak ada tefon,surat, atau email darinya. Benar sekali ucapan Ibu. Oh, betapa bodohnya aku meninggalkan pekerjaanku selama hampir 3 bulan hanya untuk menunggu mikjizat seandainya dia benar-benar mendatangiku?
"Thola'al badru 'alaina ... " hpku berbunyi. Lagu sholawat itu sengaja kupilih sebagai nada deringku. "Halo, assalamu'alaikum"
"Siiiiin ... " suara Ida masih sama seperti saat kutinggalkan dulu, antusias. "Kapan balik kerja? Minggu depan udah harus masuk loh. Kalo engak, posisimu bakal digantiin orang"
"Separah itu? Iya deh, makasih. Insya Alloh aku balik Senin ini. Mau oleh2 apa?"
Berbagai macam makanan disebutkan satu2. Aku hanya mengandalkan pena dan kertas ditanganku. Ketika kusadari begitu bamyak yang harus kubawa segera kustop kalimatnya.
"Ini ngrampok ato njarah?"
Hanya tawa yang mengakhiri perbincanganku denga teman sekamar sekaligus teman sejawatku itu.
Jum'at sore, kutata baju2ku, rapi kumasukkan dalam koper. Kulirik di atas meja tulisku. kudapati sebuah kertas yang berbunyi :
Sinna, nati malam ada pertemuan keluarga, jangan keluyuran ya.
Harap hadir, tertanda, Ibu.
Plus tanda tangan pula! Aneh, nggak biasanya Ibu nulis memo kaya' gini. Oh iya, ini kan malam Sabtu, mungkin mo arisan keluarga di rumah ini, tadi kan ibu sempet pesen jajanan di Toko Roti Arome! Ah, ga papa lah, itung2 pamitan lusa mo balik ke Surabaya.
Tepat jam 8 malam, rumahku kedatangan 2 orang tamu. Mereka sudah seumuran Bapakku, mungkin. Kuhidangkan teh manis untuk mereka tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun.
"Ini Sinna" Bapak menunjuk ke arahku. Ih, ngapain sih nyangkut2 aku segala.
"Duduk sini, Nak" ucap lelaki itu yang setelah kutahu ternyata Pak Haji Ahmad, ayah Muhsin. Dan seorang lelaki lagi dengan usia yang relatif muda adalah saudara ipar muhsin. Aku jadi kikuk sendiri. Panas dingin menyerangku. Entah mereka berbincang apa lagi telingaku sudah tak mampu mendengar dengan jelas. MEMBOSANKAN! Ingin sekali aku pergi secepatnya dari tempat ini.
"Thola'al badru 'alaina ... " hp dalam saku celanaku berbunyi. Ini kesempatanku untuk pergi. Setelah memohon diri, aku masuk kamar dan segera mengangkat telfon. "Assalamu'alaikum ..."
"Siiiiiiiin" tuh kan, Ida ngga jawab salam lagi saking antusiasnya. "Gimana, dapet ngga pesananku?"
"Dapet kok, Da"
"Tustelnya jangan lupa"
"Ups, untung kamu ingetin. Ya uda, aku beres-beres dulu"
Aku bersiap-siap keluar rumah. Namun, ...
"Mau kemaa Sin?" tanya bapak dan Ibu serempak. "Sebentar lagi Muhsin datang loh!"
"Maaf, sedaya mawon, Sinna mau keluar sebentar¡§
¡§Kemana? Ngga nunggu Muhsin dulu?¡§
Aku tersenyum. Aku kalah dengan permintaan tamu istimewa itu. Akhirnya aku duduk di tempatku tadi. Kali ini aku benar-benar stress! Dudukku tidak tenang. Sedikit-sedikit melirik jam tangan lalu melongok ke dinding. Saudara ipar Muhsin memperhatikanku. Aku makin menderita.
¡§Sebenarnya mau kemana sih, cah ayu?¡§ ayah Muhsin membelokkan tema perbincangan yang sedang berlangsung.
Aku ragu.
¡§Ke rumah Om Wisnu, ada urusan, sebentar saja¡§ aku dengan nada setengah memohon.
¡§Kamu itu, Sin. Ada tamu kok kolokan gitu. Besok ngga bisa, apa¡§
¡§Ya sudah, kasih dia udara sejuk barang sebentar. Kita kan pernah muda, barang kali dia mengalami sindrom seperti jaman kita dulu¡§
Akhirnya aku dapet izin, dari ayah Muhsin lagi. Wah, baik banget tuh orang. Terang aja, Pak Haji! Aku yakin si Muhsin adalah kebalikan dari ayahnya sebagaimana polemik yang terjadi dalam keluarga Pak Kyai.
Segera ku melesat pergi. Tustel itu harus kubawa lagi ke Surabaya untuk diberikan lagi kepada pemilik syahnya, Ida.
Di pelataran umah Om Wisnu, telah terparkir sebuah motor dengan helmet nangkring manis diatasnya dan kutahu itu bukan milik Om Wisnu. Aku masuk dari pintu samping. Aku ngga mau ganggu acara ramah tamah Om Wisnu dengan tamu itu. Di dalam, istri Om Wisnu sedang menyusui Ajim, bayi mungilnya yang berusia 5 bulan.
"Mbak Sin dateng nih. Jim" ucapku seraya mengelus kakinya yang ungil. Dia menggeliat lucu.
Setelah berbasa basi sebentar dengan istri Om Wisnu, aku ungkapkan kalo kedatanganku kali ini adalah untuk pamitan bahwa lusa mo balik ke Surabaya, sekalian ambil tustel.
"Di rak situ tuh, pintu kedua sebelah kanan" ucapnya sambil menunjuk sebuak rak berukuran besar. Ogh, ketemu!
"Om Wisnu ada tamu ya, Tante?"
"Iya, katanya sih temennya pas kerja di Malaysia dulu. Tapi kok kenal kamu? Tadi kudengar mereka nyebut2 namamu?"
DEGGG !!!
Sejurus kemudian Om Wisnu masuk ke dalam. Benar, pandangan anehnya tertuju padaku saat menemukan keberadaanku di dekat istrinya.
"Lho, Sin, kapan dateng? Backstreet ya?"
"Iya". Malu aku, o..o aku ketahuan , bekstrit lagi!.
"Sin, keluar sini deh" pinta Om wisnu.
Aku berjalan ke arahnya yang berada di ruang depan. Dan dari arah berlawanan sebuah sosok mendekat Omku pula.
"Ini Sinna ya, Mas?" tanya sosok tadi. Kenapa wajahnya begitu familiar? Dimana ya aku ketemu dengannya? Ahhh ... Wajah pasaran kali.
"Sinna, ini Rio, yang dulu sering surat-suratan sama kamu".
RIO !?!?!?!?
Diulurkan tangan Rio, kusambut dengan tangan kananku. Dag dig dug serasa mau meloncat jantungku. Hangat kerasa telapak tangannya, tapi ... tanganku? begitu dingin. Sedingin es di puncak gunung Fuji.
Ditinggalkannya kami berdua di ruang tamu. Sedangkan Om Wisnu kembali ke dalam. Aku jadi salah tingkah. Kulirik Rio, kudapati dia pada kondisi yang sama.
¡§Kesini maen, ya¡¨
¡§Ini, ngambil tustel, sekalian pamit besok mau balik ke Surabaya¡¨
¡§Secepat itu? Kamu ¡K¡¨ suaranya terputus karena hpnya berbunyi. ¡§Assalamu ¡¥alaikum ¡K Iya. Ga papa. Saya sama dia. Okey. Wa¡¦alaikum salam¡¨ Kleg. Hp mati seketika. ¡§Kaya¡¦nya kita harus pulang deh¡¨
¡§Kita???¡¨
¡§Iya, aku anter kamu pulang¡¨
¡§Ada apa?¡¨ suara Om Wisnu hadir diantara kami.
¡§Mas, aku harus anter Sinna pulang. Salam buat Ajim dan istri Mas¡¨
¡§Kenapa aku harus ikut kamu pulang? Pulang kemana?¡¨ tanyaku bloon.
¡§Itu tadi telpon dari ortumu. Mereka khawatirin kamu. Ayo, aku boncengin kamu¡¨. Aneh!!! Bagaimana ortuku tahu nomor telpon Rio?
¡§Ya udah, Sin. Biar sepedamu disini, kapan-kapan Om anter ke rumahmu. Tustelnya udah kamu bawa, kan?¡¨
¡§Makasih udah ngrepotin Om¡¨.
Sepeda motor Rio berjalan cepat. Hanya kebisuan yang mengiringi perjalanan kita. Seketika kuingat bahwa di rumah ada ayah Muhsin dan kakak iparnya itu atau Muhsinnya sendiri sudah berada disana? Oooh, jangan sampai Rio bertemu mereka.
¡§Rio, jangan pulang dulu deh. Aku ada perlu?¡¨
¡§Perlu apaan sih? Mending kita pulang dulu, ini kan udah malam¡¨
¡§Di ¡K Di ¡K Di rumahku lagi ngga bisa terima tamu¡¨
¡§Kenapa? Ada tamu selain aku? Acara tunangan?¡¨
HEIGHK¡@HEIGHK¡@!?!?
Kenapa tebakannya jitu banget?
¡§Engg ¡K Enggg ¡K Tapi¡¨. Mesin motor mati dan kusadari aku sudah sudah sampai di depan rumahku. Dalam hatiku berharap semoga Muhsin tak pernah datang ke rumahku.
¡§Lho, bagaimana kalian bisa bersama-sama?. Ucap ayah Muhsin begitu mendapati aku dan Rio masuk bersama. Aduuuh, celaka. Mereka ternyata kenal.
¡§Nak Muhsin, silakan duduk¡¨ ucap ayah.
Muhsin?? Kutoleh kearahnya. Muhsin adalah Rio??? Aku masih melongo dengan kalimat yang baru saja kudengar. Rio menarikku untuk bergabung bersama mereka. Aku masih berada di alam bawah sadarku.
¡§Jadi, bagaimana dengan obrolan kita tadi?¡¨
¡§Kalo kita lihat keduanya, kita sudah tau jawabnya, betul kan, Bu?¡¨ Ibu hanya tersenyum dan manggut-manggut.
¡§Biar lebih jelas, kita tanyakan saja sama yang bersangkutan. Bagaimana Sin?¡¨
¡§Eng ¡K¡¨ aku dan Rio ancang-ancang ambil suara bersama-sama dan seketika tertahan bersama-sama pula.
¡§Maksudku Nak Muhsin¡¨
¡§Saya harap bisa bersama Sinna¡¨
¡§Kamu, Sinna?¡¨
¡§Terserah Bapak sama Ibu saja bagaimana baiknya¡¨
¡§Jadi kamu sudah melepas Riomu itu?¡¨ kalimat ibu membuat semua mata menghakimiku.
¡§Rio itu saya. Nama lengkap saya Effendi Rio Muhsin¡¨.
¡§Oooo ¡K¡¨ semua tersenyum lega. Terutama aku, penantian panjang dan mimpi-mimpi yang kubangun bersama manusia maya itu segera menjadi kenyataan. Sedikit ku terlupa akan keberangkatanku ke Surabaya esok. Yang penting, kini kutemukan dia, Rioku, Muhsinku.