2008年12月26日星期五

Gagal total (DT)

Dukuh Tambang
By: Nana Korea

"Mekaten loh, Pak. Penambangan pasir di sungai yang dilakukan terus menerus akan mencabut pagar betis sungai. Jika terjadi banjir, aliran sungai bisa keluar jalur sehingga menghantam sisi kiri kanan ruas sungai". Aku sengaja tidak memakai kata erosi karena bapakku belum akrab dengan istilah itu.
"Kula miris melihat rumah Mbah Jarno yang di pinggir sungai itu. Tiap tahunnya jarak sungai dengan dinding rumahnya semakin dekat" lanjutku.
"Nduk, awakmu ki ngga usak banyak cing cong. Lihat dirimu, kamu bisa seperti sekarang juga karena tambang pasir itu. Sepetak ladang singkong di belakang rumah kita tak akan mampu membiayai sekolahmu".
Skak mat.
Aku mati langkah. Benar sekali kata-kata bapak. Pangkatnya sekarang sudah tinggi. Saking tingginya tak ada yang bisa melengserkan posisi beliau walaupun itu memakai nama orde baru atau orde reformasi. JURAGAN PASIR. Whusysy ... hebat toh! Tak perlu sekolah tinggi apalagi pelantikan ala militer seperti di TV-TV. Masyarakatlah yang menyematkan gengsi itu didepan nama bapak.
Beliau asli petani, tepatnya buruh tani. Tapi sejak aku kelas satu SD, ibu bekerja di Hong Kong. Hasil yang diinvestikan hingga sekarang adalah dengan pengadaan colt ompreng yang diambil dengan mencicil. Aku tak tahu pasti bagaimana model pencicilannya. Yang aku tahu, kami dijerat cicilan selama 5 tahun dengan membayar sekian juta rupiah pada dealer.
Colt itulah yang digunakan untuk mengangkut pasir dari penambang ke pembeli. Juga batu koral yang merupakan hasil lain sungai itu. Seolah-olah sungai itu adalah sumber penghasilan tambahan penduduk sini,
Kalau dilihat dari atas dengan ketinggian 1500 kaki, dukuh ini mirip hutan mini yang menaungi atap-atap rumah penduduk yang menghitam karena termakan usia. Lebuh mudahnya digambarkan seperti daerah cekung yang dikelilingi dataran tinggi. Rekonstruksi yang aneh. Letaknya juga tidak strategis. Dukuh ini bernama dukuh Guwa_berasak dari bahasa Jawa untuk kata gua ( bukan gua-gua, elu-elu). Tapi dalam perkembangannya lebih dikenal sebagai dukuh tambang karena kebanyakan masyarakatnya menambang pasir diantara kesibukannya bertani atau berladang.
Juga disebut dukuh Guwa karena daerahnya yang menjorok masuk kedalam. Hanya ada satu jalan keluar masuk menuju dukuh itu. Dukuh yang dikelilingi bukit mengakibatkan jalan yang menghubungkan dengan kampung lain menanjak tajam.
Ditengah-tengah dukuh terdapat aliran sungai yang mengalir dari hulu di timur membelok ke selatan di tengah-tengah Gunung Pegat dan kembali menuju hilir di barat setelah membelok di kaki Gunung Pegat barat. Keanehan aliran yang membujur dari utara ke selatan sepanjang Gunung Pegat menurut cerita rakyat untuk membagi rata daerah kekuasaan seorang raja yang sakti mandra guna dimana raja itu memiliki dua putra kembar yang dua-duanya menginginkan kedudukan ayahnya. Sehingga, satu-satunya gunung yang dimiliki dibelah menjadi dua yang disebut Gunung Pegat ( gunung pisah).
Di sisi kiri kanan sungai di yang memanjang dari utara ke selatan itu ditumbuhi aneka hasil ladang, seperti: ubi, jagung, singkong, talas, garut, dan kacang tanah. Ladang-ladang ini murni pengairan dari Tuhan. Penduduk belum berfikir ataupun sudah berfikir tapi belum terealisasi_ menyedot air sungai dengan diesel sebagai sumber pengairan di musim kemarau. Toh begitu, model becocok tanam mereka sudah canggih disesuaikan dengan musim.
Ladang-ladang penduduk ini didapat secara turun temurun. Sebagaimana nenek dari garis ibu mendapatkannya dari ayahnya yang asli penduduk situ. Sedangkan kakek dari garis ibu adalah pendatang dari Solo. Beliau terpaku di dukuh ini karena tanpa sengaja masuk dukuh ini dimana beliau mencari daerah persembunyian dari pengejaran penjajah Jepang. Karena kepincut nenek, setelah merdeka, beliau memilih menekuni ladang warisan embah buyut yang kebetulan hanya memiliki satu anak, yaitu nenek.
Satu-satunya jalan keluar masuk dukuh ini pun terkenal angker. Jalan ini tak tampak layaknya pada umumnya. Jalurnya yang berkelok-kelok dan tepat di tanjakan yang menikung di jalan masuk terdapat jurang menganga dengan tanah cadas gersangnya. Hanya pagar bambu usang yang menjadi penanda dibawahnya adalah jurang dengan kedalaman 900 meter. Tanjakan itu sepanjang sepanjang 1500meter. Namun kira-kira di tengah tanjakan kita akan disuguhi pucuk-pucuk bambu yang hijau dan rimbun menyenbul dari balik dinding jurang karena pokok pohon itu berada disana.
Sedangkan di kanan jalan ditumbuhi semak belukar yang berselang-seling dengan segerombolan pohon bambu sebagaimana di kiri jalan. Jika tertiup angin gesekan-gesekan antar pohon bambu akan menimbulkan suara semacam jeritan. Belum lagi pohon jati, akasia, mahoni, petai cina tumbuh liar dengan diameter pohon setangkup tangan orang dewasa. juga bongkahan-bongkahan batu besar berserakan di ladang penduduk dan tanah tak bertuan sebagainana yang terlihat di kaki gunung berapi yang tidak aktif lagi.
Dulu, tempat yang paling angker adalah di tanjakan ini. Pohon-pohon besar menaungi tanah yang istilah kerennya berkanopi tinggi sehingga sinar matahari sulit menyentuh kulit bumi. Apalagi berdirinya sebuah relief kepala singa barong di kaki tanjakan menambah kesan angker, Jika malam tiba, kepala singa barong seolah-olah hidup dikarenakan sorot lampu atau senter yang dipantulkan oleh dua buah kelereng yang disematkan diatas relief itu sebagai bola mata. Benar-benar seperti singa kelaparan. Bukan tanpa tujuan dibangunnya relief ini. Relief ini adalah penanda selamat datang di dukuh Guwa di kabupaten Ponorogo yang terkenal dengan REYOG itu. Inilah bentuk kepedulian penduduk atas kesenian khas daerahnya.
Kemudian berjarak 5 meter di atasnya di tengah-tengah tanjakan, ada sebongkah batu sebesar kepala truk kontainer diam di kanan jalan. Bentuknya seperti limas segi tak beraturan yang diletakkan terbalik. Sehingga salah satu sisinya menukik dan sisi yang lain menggantung. Pada sisi yang menggantung itu, tiap pagi akan meneteskan air yang diproduksi dari embun tebal yang menyelimuti dukuh ini. Sehingga memberi kesan seperti batu menangis.
Jika hujan deras bagian bawah batu itu mampu menangkis air hujan. Namun tak seorang pun berani berteduh dibawahnya. Mereka akan bilang takut kualat sama penunggu batu itu. Ya, begitulah alasan khalayak umum. Tapi bagi generasi selanjutnya yang hidup di abad 21 punya alasan yang kukira lebih logis. Berteduh di bawah batu sebesar itu disaat hujan turun dikhawatirkan akan tertindih batu itu sendiri kalau-kalau sinar arrasy Tuhan memerintahkan batu itu bergerak. Bentuk yang seperti limas terbalik itu tidak stabil. Pun kalau stabil dikhawatirkan di tempat itu banyak binatang melata ikut berteduh disana, seperti: ular, kalajengking, kaki seribu atau yang lain.
Sekarang hanya tinggal beberapa onggok saja batu serupa yang tersisa di dukuh ini. Itupun yang berada di tempat-tempat keramat. Sedangkan batu-batu besar yang duduk manis di ladang atau tanah lapang tak bertuan telah dihancurkan menjadi koral.
Seperti yang Saya tulis tadi, sengai yang membelah gunung Pegat adalah nadi kehidupan dukuh ini. Di era 80-an dimana penambangan pasir belum menjadi tren, aliran sungain ini begitu jernih, tenang dan menyejukkan. Aku masih menyaksikan beberapa penduduk yang menanfaatkan alirannya untuk keperluan MCK Mandi Cuci Kakus. Syukurlah pengetahuan mengambil air bersih dari sumber air atau sumur-sumur telah diketahui sehingga tidak menjadikan air sungai sebagai pelengkap dapur.
Bila ufuk timur berwarna jingga, bersaing dengan terbitnya surya, bapak-bapak dan ibu-ibu tani dengan "pakaian dinas" lengkap plus alat-alat bercocok tanam bertolak ke arah barat. Biasanya mereka bergerombol 5 atau 6 orang. Mereka menyeberangi sungai satu persatu melewati satu-satunya jembatan penyeberangan . Indah, bak peragawan peragawati berjalan di atas catwalk. Kemudian menanjak di kaki gunung Pegat barat terus naik didataran atas dimana sawah-sawah mereka terhampar disana. Anak-anak mereka yang sudah tak bersekolah baik yang sengaja keluar, lulusan SD, SMP, SMA, wajib mengikuti jejak pekerjaan mereka atau menekuni ladang/kebun di belakang rumah mereka. Ya, memang tak ada pilihan pekerjaan lain di dukuh ini.
Bila matahari tegak di atas kepala, di beberapa tempat strategis kegiatan mandi siang adalah adegan selanjutnya. Rata-rata hanya kaum pria yang berani mandi bugil di siang bolong seperti ini. Itu pun tak banyak karena di dekat sumber-sumber air (sumur) sudah berdiri kamar mandi darurat yang berdinding anyaman bambu (gedheg). Sedangkan tempat penampung airnya adalah gentong besar yang dilubangi disisi samping bagian bawah. Pada lubang itu dijejali selang untuk memberi kesan seperti pancuan. Kalau toh tak ada gentong, biasanya memakai ember besar dengan gayung batok kelapa made in sendiri.
Selepas dzuhur, giliran lisang kali sebutan untuk anak-anak usia SD yang gemar menghabiskan waktu main di sungai memenuhi areal sungai dimana bapak-bapak tadi mandi. Mereka akan memanfatkan gedebog pisang sebagai perahu atau bermain perosotan dari daratan terjun ke sungai. Begitu riang mereka bermain air. Jika merasa lelah, segerombolan lisang kali tadi akan dengan sendirinya berhenti bermain melanjutkan acara flying kite di tanah lapang tak bertuan di dataran atas di dekat tanjakan jalan masuk dukuh ini,
Aku, makhluk yang takut air dan tak bisa berenang selayaknya teman-teman sebayaku hanya menyaksikan adegan itu sambil duduk di atas batu besar di pinggir sungai. Batu besar itu wajib dijaga keberadaan dan kebersihannya demi penonton setia seperti aku.
Matahari yang kian condong ke barat memamggil makhluk berkaki empat lain yang antri mandi disini. Sapi, kerbau, kambing adalah spesies selanjutnya yang memanfaatkan sungai ini sebagai kolam mini anugrah Tuhan. Semburat kuning keemasan yang makin lama berubah jingga terlukis indah di langit menambah keceriaan sore ini.
“Tapi, Pak” lanjutku.
“Sudahlah, Nduk. Kamu itu bocah wadon, ngga usah banyak tolah, ora becik” Bapak berlalu sambil menghisap rokok klobot jagung, made in sendiri juga.
Aku tidak puas dengan pendiskrimimasian model ini. DISKRIMINASI GENDER. Aku memang perempuan, so what?
Aku berdiri menyapukan pandangan ke seisi ruangan. Lalu aku berjalan menuju sepeda mini butut yang terparkir manis dibawah pohon mangga. Besi yang membentuk badan sepeda sudah berkarat. Usianya baru saja melewati 2/3 usiaku. Aku kayuh pelan disepanjang jalan yang masih berupa tanah itu.
Semakin kukayuh semakin aku jauh meninggalkan kediamanku. Dari seberang sayup-sayup terdengar deru mesin kendaraan. Aku hafal dengan suara ini. Mungkin itu colt bapak yang pulang dari antar pasir. Duh, bagaimana ini? Andai kalian tahu, jalan utama di dukuh ini yang hanya bisa dilewati satu kendaraan roda empat saja. Tak mungkin aku berbalik arah mendahului laju kendaraan itu. Pun tak mungkin aku berhenti di pinggir jalan karena bisa saja body kendaraan itu menyenggolku. Dengan terpaksa aku bersama sepeda miniku menengelamkan diri dalam got di pinggir jalan.
Tak bisa kubayangkan jika sekarang adalah musim penghujan. Tentu got ini akan tergenang air bah yang berwarna coklat lumpur dan kotor.
Ya, colt bapak melewati tempatku berdiri. Kulihat Kang Karji dan Kang Aris duduk di depan. Di belakang, bersama cangkul dan skop, si Wawan duduk meringis sambil melihat keadaanku yang menyedihkan.Sepintas lalu saja kuperhatikan mereka. Buru-buru kuangkat lagi sepeda miniku dengan susah payah ke jalan utama. Baru aku ancang-ancang duduk di atas sadel sepeda, bunyi mesin motor terdengar mendekat ke arahku. Mesin sepeda motor, begitu hasil yang kucerna setelah beberapa detik menganalisa bunyi itu.
Aku urung bergerak ketika motor itu berlalu di sampingku. Tak berselang lama, motor itu berbalik arah dan berhenti di kananku. Reflek aku menoleh.
Nampak perfect si pengendara itu duduk di atas motor. Tubuhnya tampak berisi. Dadanya busung. Kostumnya hari ini kemeja press body kuning gading tak bermotif dengan dua kancing baju teratas dibiarkan terbuka. Ada saku di dada kiri yang terlihat lebih gemuk dibandingkan dada kanan. Entah dia mengantongi apa aku sempat melirik bagian itu yang jelas bukan mengantongi uang (hehehe).
Perlu diketahui, atasan ini dimasukkan sebagian ke dalam celana panjang coklat pekat dengan garis setrikaan yang masih tertinggal didaerah paha sampai ke bawah. Disambung dengan high heels coklat berbahan dasar kulit buaya imitan. Siapa gerangan?
Dia membuka helmet. Ohoho … wanita misterius ini adalah Henry si pemegang ketiga rangking besar saat SD dulu bersaing bersama Rudi dan Singgih. Mereka bertiga adu otak memperebutkan tempat te di kelas. Aku? Aku hanya pelengkap buku absen dan tukang cuap-cuap/cheer leaders paling gila yang berada di front Henry sesama gender.
“Hayu, gimana kabarnya?” kalimat itu terlontar dengan ringan berbaur dengan deru motor yang belum di-off-kan. Aku tersenyum sambil mengangkat kedua pundak dan menunjuk-nunjuk telingaku. Dia tanggap dan mematika mesin kendaraannya. “Gimana kabarnya?” dia mengulangi pertanyaannya beberapa detik lalu.
“Baik. Kamu?”
“Seperti yang kamu lihat!” dengan senyum 1/2 hati yang terefleksi dengan terangkatnya 1 sudut di bibir kanannya.
“Sukses ya sekarang. Ngantor dimana?”
“Pemkab, Dinkesra” Oh, pantas sekali, dia kelihatan sangat sejahtera. “Mau kemana?”
Deg. Oia, aku tadi mau kemana?
“Nyepi” dengan mimik menahan malu sehingga terlihat seperti manusia yang terkena gangguan mental.
“Kenapa? Marah sama ortu? Sama pacar?” Aku menggangguk.” Dari dulu kebiasaanmu kok nggak berubah. Gimana kalo aku ajak ke tempat favorit kita” Duh malu sekali, mungkin yang tergambar di wajahku adalah warna kepiting rebus.
“Tapi …” kalimatku terhenti. Aku malah menyaksikan bagaimana seorang Henry memarkir motornya di bawah pohon akasia.
“Turun!” perintahnya ini aku turuti dengan pasrah seperti orang kena gendam. Kemudian dia menggelendeng sepeda mini karatan itu di samping motornya. Dia tambatkan disana sebagaimana yang dilakukan pada motornya dengan gembok yang sebelumnya telah diambil dari jok motor. Setelah merasa aman dan telah mencabut kunci yang tertancap diantara stang motor kita mulai melakukan penjelajahan.
“Kita jelajah sungai kita”
“Dengan kostum kamu yang seperti itu?Ry, jangan ngaco! Kamu akan kaget melihat keadaan sungai kita”
Dia diam. Terus saja dia menelusuri jalan pintas yang penuh semak dan ilalang. Aku mengguntitnya. Sesekali tanganku tergores oleh daun-daun ilalang yang tipis kurus memanjang. Kami menuruni bibir jurang disisi tanjakan. Kemudian menelusup diantara pohon-pohon bambu yang tumbuh bergerombol disana sini. Rumput di bibir sungai terlihat hijau. Berbeda dengan ilalang tadi yang kering kekuningan dan kerdil.
Kami terus berjalan hingga sampai dibebatuan besar dimana aku biasa menyaksikan lisang kali beraktifitas. Juga si putih tinggi besar (sapi) atau si bule, eh salah, buluk gemuk besar (kerbau) juga si jenggot panjang (kambing) dimandikan oleh si empunya. Kami terdiam diatas lempengan batu itu. Aku tak tahu apa yang difikirkannya. Yang jelas, saat ini aku mengamati aliran sungai yang tak lurus membujur dari utara ke selatan. Sekitar 7 meter di kiriku alirannya membelok ke timur sekitar 3 meter dan kembali lagi pada jalurnya setelah mengalir 3 meter dari belokan pertama. Entahlah. Aku sendiri susah menggambarkan karena otakku sedang dipenuhi dengan fikiran-fikiran bagaimana caranya agar sungai ini terselamatkan.
“Yu, kalo boleh sharing, kamu kenapa?”
“Ngga napa-napa. Aku tadi sempet berbeda pendapat dengan Bapak. Aku ngga mau kehilangan kealamian sungai ini. Tapi … aku ngga puas dengan pernyataanya pun tak berkutik pula dengan sanggahannya. Aku ngga mau penambangan pasir ini menyebabkan erosi yang berkelanjutan. Ingetkan Desember lalu sebagian daerah di kota kita tergenang banjir? Tau kenapa? Karena alam marah, langit menangis! Hutan-hutan digunduli. Sampah-sampah menyumbat aliran air. KESETIMBANGAN EKOSISTEM KACAU, Hen!"
"Endingnya, manusia lagi yang menanggung akibatnya. Aku ngga mau ini terjadi pada dukuh Guwa. Letak geografis dukuh ini ber peluang besar akan hal itu. Dukuh ini terlalu indah, terlalu damai, terlalu banyak kenangan untuk ditenggelamkan air bah”
“Gitu ya” Apa? Tau nggak Hen, aku tuh capek menahan gejolak hatiku ini. Tapi jawabmu “gitu ya”. Maksudmu apa?
“Maaf Ibu Dinkesra. Saya bicara pada Anda dengan amat sangat serius sekali. Sebagai partner curhat, sebagai sohib, sebagai rakyat yang ingin didengarkan keluh kesahnya”
“Trus …” aku semakin kesal dengan sikapnya yang cool ini. Ingin rasanya aku cuci otaknya dengan air raksa agar memori-memori error lenyap seketika. Mulutku terbuka bersiap-siap untuk menukas balik. Tapi ... tak sepatah kata pun keluar. Yang terlihat adalah seorang gadis 20-an tahun yang melongo seperti melihat artis pujaannya lewat di depan mata. Akhirnya ...
"Penamangan pasir harus dihentikan!" ucapku mantab lebih dari mantap dengan sorot mata tajam ke depan.
"Sadarkah apa yang kamu katakan itu, friend! Lihatlah pengangguran di dukuh kita. Ladang-ladang menyempit. Tanah-tanah lapang ditanami rumah. Populasi meningkat. Usia produktif (15-35 tahun) bisa disearp dengan lapangan kerja bernama tambang pasir itu. Penambangan ini relatif aman, tak berlimbah,bebas dari zat-zat kimia dan gas beracun serta banyak menyerap tenaga kerja. Ini adalah proyek percontohan yang bakal sukses".
"Tau nggak, Yu, daerah kita selain terkenal sebagai kota REYOG juga termasuk 3 daerah terbesar penyuplai tenaga kerja ke luar negeri"
"Ini aset, Yu! Ini akan memajukan daerah kita, menyejahterakan masyarakat kita!" Oh, ini rupanya buah pemikiran salah satu orang penting di dinkesra. Kalimat yang keluar adalah menyejahterakan masyarakat. Benarkah kehidupan TKI di luar negeri sana benar-benar sejahtera?
"OK! OK! MENYEJAHTERAKAN MASYARAKAT!" aku menghela nafas.
"Jujur, akupun dlondonge eks-TKI. Aku juga hidup dari tambang pasir itu. Tapi, dimanakah sungai kita yang jernih dan bening itu?" mataku menyapu pandangan. Disana-sini terdapat gundukan pasir dan koral telah siap disulap menjadi lembar-lembar rupiah. Cekungan-cekungan merata di badan sungai sebagai arena penambangan. Kita berdua terdiam.
"Mungkin yang bernasib baik, hidup di kota lebih menjanjikan daripada hidup di dukuh ini. Hidup menjadi TKI lebih nikmat dari pada memeras okol menjadi pengeruk pasir. Ya, inilah fenomena dukuh Guwa".
"Wahyu, nikmatilah masa kejayaanmu menjadi putri juragan pasir. Masyarakat kita adalah pekerja keras. Begitulah cara mereka mengais rizki Tuhan. Kalo mau sungguh-sungguh berusaha, Tuhan akan memberi imbalan yang setimpal".
Benar! KALO MAU BERSUNGGUH-SUNGGUH, TUHAN AKAN MEMBERI IMBALAN YANG SETIMPAL. Aku akan tetap mencari solusi masalah ini. Insya Alloh. Dia akan menjawab.
TW. 27-08-08

2008年12月24日星期三

Cerpen yang gagal cetak (MM)


Manusia Maya
by : Nana Korea
Tombol berwarna merah kutekan. Seketika layar TV di depanku mati. Serasa membosankan aktifitasku akhir-akhir ini. Waktu cutiku hanya kuhabiskan di depan TV pujaan, pulau kapuk impian, dan toilet idaman. Orang tuaku tak tahu kenapa aku ambil cuti begitu lama, hampir 3 bulan. Mereka mengira aku MD (mengundurkan diri) dari tempatku kerja.
Segera ku bangkit. Namun, kuurungkan niatku dan kembali duduk di sofa sambil memeluk bantal bergambar mickey mouse itu.
"Nduk! Ada yang mau Ibu bicarakan sama kamu" ucap Ibu yang mengambil duduk tepat disebelahku. Aku bertingkah seolah tak mengacuhkan ucapannya. Pasti mengenai si Muhsin, anak Pak Haji Ahmad itu lagi.
"Kamu kan sudah besar, Bapak sama Ibu juga pengen menimang cucu. Jadi, bagaimana menurutmu dengan obrolan kita kemarin? Menurut Ibu Muhsin itu baik, juga cakep!" serasa ingin muntah aku mendengar sanjungan Ibu buat "calon idaman" yang seyogyanya buatku.
"Ibu! Jaman gini kok pake jodoh-jodohan segala sih. Aku ngga bisa cari sendiri apa? Lagian aku udah kelihatan tua banget ya, aku masih nunggu dia, Bu"
"Si Rio, manusia yang kamu kenal dari komputer itu? Sampai kapan kamu mau nunggu dia? Bertemu pun belum pernah, begitu percayakah kamu padanya? Sekarang ini surat atau telpon pun tak pernah ada dari dia. Masa selama kamu kuliah hingga kerja pun tak ada yang mampu menggantikan posisinya dari hatimu?"
"Mungkin aku gila, aku tergila-gila padanya. Aku lebih memilih manusia mayaku yang bernama Rio itu daripada Muhsin, Bu"
"Dari kemarin itu terus jawabmu" Ibu kelihatan jengkel lalu berdiri meninggalkanku.
Sembari kurenung ucapan Ibu, fikiranku kembali ke masa lalu. Yah ..... Masa itu dimana aku mengenal Rio. Rio yang berasal dari kota sebelah yang menuntut ilmu di kotaku. Saat itu dia dan Om Wisnu, adik kandung Ibu, adalah teman sekelas. Begitu lulus, keduanya pergi mengadu nasib ke negeri Jiran-Malaysia. Mereka bekerja di sebuah pabrik pengalengan. Aku yang gemar corat coret sering mengirimkan hasil karyaku ke Om Wisnu sebagai pengobat rindu keluarga. Tetapi, malah Rio yang tertarik dengan karyaku. Setelah OmWisnu pulang ke tanah air, karyaku seolah seret, hubunganku dengan Rio pun padam seiring kesibukan baruku di bangku kuliah.
Aku hanya mengambi D3. Namun aku sangat bersyukur karena mendapatkan rekomendasi dari kampus sehingga memudahkanku mendapatkan pekerjaan. Dalam waktu itu tak ada lagi surat dari Rio dan aku sendiri berfikir dia hanya bagian dari masa laluku. Kini aku bertugas di Ambon untuk tugas pertamaku.
Hingga suatu ketika, kubaca sebuah email yang ternyata dari Rio. Dia mengatakan bahwa selama 2 tahun terakhir ini dia berada di Tokyo sebagai TKI. Dia mengatakan kesulitan mendapatkan info, alamat, serta nomor telponku, yang akhirnya dia peroleh secara lengkap dari Om Wisnu. Hubungan kami yang semula beku kini mencair lagi.
Ingin sekali kutolak hubungan maya ini. Tapi aku begitu menikmatinya. Nikmat? Kenikmatan seperti apa? Aku tak peduli. Aku merasa ringan bila meluapkan semua uneg-unegku padanya. Kami pun saling bertukar cerita, foto, dan file-file pribadi. Dan aku mempercayainya! Geli juga kurasakan hubungan seperti ini.
Pernah suatu ketika dia mengajakku bermain chat. Namun, aku bisa menolaknya dengan halus yang pada kenyataannya aku belum siap bertemu dengannya walaupun via dunia maya. Berbagai jurus dia keluarkan untuk memanas-manasiku termasuk omongannya yang mengatakan bahwa lulusan kampus favourite dengan nilai yang cumlaude seharusnya bias main chat. Lho, memang harus! Walaupun lulusan kampus favorit tapi hasil ip-nya jeblok bukan lagi cumlaude malah jadi kemelud, iya kan!
Bulan Desember itu kubuka email dari dia. Dia menyatakan bahwa akhir bulan ini dia akan kembali dari Tokyo. Hanya itu bunyi emailnya. Ketakutanku muncul lagi. Apalagi sekarang aku sudah pindah tugas ke Surabaya. Jujur, aku belum siap bertemu dengannya. Sebenarnya, ketakutan utamaku adalah impian-impian yang kubangun di dunia maya akan sirna jika aku berkaca pada dunia nyata. Aku benar-benar tidak bisa!
Dan hari ini menginjak mingu ke-3 bulan Maret. Berarti, hampir 3 bulan dia berada di tanah air. Selama itu pula tak ada tefon,surat, atau email darinya. Benar sekali ucapan Ibu. Oh, betapa bodohnya aku meninggalkan pekerjaanku selama hampir 3 bulan hanya untuk menunggu mikjizat seandainya dia benar-benar mendatangiku?
"Thola'al badru 'alaina ... " hpku berbunyi. Lagu sholawat itu sengaja kupilih sebagai nada deringku. "Halo, assalamu'alaikum"
"Siiiiin ... " suara Ida masih sama seperti saat kutinggalkan dulu, antusias. "Kapan balik kerja? Minggu depan udah harus masuk loh. Kalo engak, posisimu bakal digantiin orang"
"Separah itu? Iya deh, makasih. Insya Alloh aku balik Senin ini. Mau oleh2 apa?"
Berbagai macam makanan disebutkan satu2. Aku hanya mengandalkan pena dan kertas ditanganku. Ketika kusadari begitu bamyak yang harus kubawa segera kustop kalimatnya.
"Ini ngrampok ato njarah?"
Hanya tawa yang mengakhiri perbincanganku denga teman sekamar sekaligus teman sejawatku itu.
Jum'at sore, kutata baju2ku, rapi kumasukkan dalam koper. Kulirik di atas meja tulisku. kudapati sebuah kertas yang berbunyi :
Sinna, nati malam ada pertemuan keluarga, jangan keluyuran ya.
Harap hadir, tertanda, Ibu.
Plus tanda tangan pula! Aneh, nggak biasanya Ibu nulis memo kaya' gini. Oh iya, ini kan malam Sabtu, mungkin mo arisan keluarga di rumah ini, tadi kan ibu sempet pesen jajanan di Toko Roti Arome! Ah, ga papa lah, itung2 pamitan lusa mo balik ke Surabaya.
Tepat jam 8 malam, rumahku kedatangan 2 orang tamu. Mereka sudah seumuran Bapakku, mungkin. Kuhidangkan teh manis untuk mereka tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun.
"Ini Sinna" Bapak menunjuk ke arahku. Ih, ngapain sih nyangkut2 aku segala.
"Duduk sini, Nak" ucap lelaki itu yang setelah kutahu ternyata Pak Haji Ahmad, ayah Muhsin. Dan seorang lelaki lagi dengan usia yang relatif muda adalah saudara ipar muhsin. Aku jadi kikuk sendiri. Panas dingin menyerangku. Entah mereka berbincang apa lagi telingaku sudah tak mampu mendengar dengan jelas. MEMBOSANKAN! Ingin sekali aku pergi secepatnya dari tempat ini.
"Thola'al badru 'alaina ... " hp dalam saku celanaku berbunyi. Ini kesempatanku untuk pergi. Setelah memohon diri, aku masuk kamar dan segera mengangkat telfon. "Assalamu'alaikum ..."
"Siiiiiiiin" tuh kan, Ida ngga jawab salam lagi saking antusiasnya. "Gimana, dapet ngga pesananku?"
"Dapet kok, Da"
"Tustelnya jangan lupa"
"Ups, untung kamu ingetin. Ya uda, aku beres-beres dulu"
Aku bersiap-siap keluar rumah. Namun, ...
"Mau kemaa Sin?" tanya bapak dan Ibu serempak. "Sebentar lagi Muhsin datang loh!"
"Maaf, sedaya mawon, Sinna mau keluar sebentar¡§
¡§Kemana? Ngga nunggu Muhsin dulu?¡§
Aku tersenyum. Aku kalah dengan permintaan tamu istimewa itu. Akhirnya aku duduk di tempatku tadi. Kali ini aku benar-benar stress! Dudukku tidak tenang. Sedikit-sedikit melirik jam tangan lalu melongok ke dinding. Saudara ipar Muhsin memperhatikanku. Aku makin menderita.
¡§Sebenarnya mau kemana sih, cah ayu?¡§ ayah Muhsin membelokkan tema perbincangan yang sedang berlangsung.
Aku ragu.
¡§Ke rumah Om Wisnu, ada urusan, sebentar saja¡§ aku dengan nada setengah memohon.
¡§Kamu itu, Sin. Ada tamu kok kolokan gitu. Besok ngga bisa, apa¡§
¡§Ya sudah, kasih dia udara sejuk barang sebentar. Kita kan pernah muda, barang kali dia mengalami sindrom seperti jaman kita dulu¡§
Akhirnya aku dapet izin, dari ayah Muhsin lagi. Wah, baik banget tuh orang. Terang aja, Pak Haji! Aku yakin si Muhsin adalah kebalikan dari ayahnya sebagaimana polemik yang terjadi dalam keluarga Pak Kyai.
Segera ku melesat pergi. Tustel itu harus kubawa lagi ke Surabaya untuk diberikan lagi kepada pemilik syahnya, Ida.
Di pelataran umah Om Wisnu, telah terparkir sebuah motor dengan helmet nangkring manis diatasnya dan kutahu itu bukan milik Om Wisnu. Aku masuk dari pintu samping. Aku ngga mau ganggu acara ramah tamah Om Wisnu dengan tamu itu. Di dalam, istri Om Wisnu sedang menyusui Ajim, bayi mungilnya yang berusia 5 bulan.
"Mbak Sin dateng nih. Jim" ucapku seraya mengelus kakinya yang ungil. Dia menggeliat lucu.
Setelah berbasa basi sebentar dengan istri Om Wisnu, aku ungkapkan kalo kedatanganku kali ini adalah untuk pamitan bahwa lusa mo balik ke Surabaya, sekalian ambil tustel.
"Di rak situ tuh, pintu kedua sebelah kanan" ucapnya sambil menunjuk sebuak rak berukuran besar. Ogh, ketemu!
"Om Wisnu ada tamu ya, Tante?"
"Iya, katanya sih temennya pas kerja di Malaysia dulu. Tapi kok kenal kamu? Tadi kudengar mereka nyebut2 namamu?"
DEGGG !!!
Sejurus kemudian Om Wisnu masuk ke dalam. Benar, pandangan anehnya tertuju padaku saat menemukan keberadaanku di dekat istrinya.
"Lho, Sin, kapan dateng? Backstreet ya?"
"Iya". Malu aku, o..o aku ketahuan , bekstrit lagi!.
"Sin, keluar sini deh" pinta Om wisnu.
Aku berjalan ke arahnya yang berada di ruang depan. Dan dari arah berlawanan sebuah sosok mendekat Omku pula.
"Ini Sinna ya, Mas?" tanya sosok tadi. Kenapa wajahnya begitu familiar? Dimana ya aku ketemu dengannya? Ahhh ... Wajah pasaran kali.
"Sinna, ini Rio, yang dulu sering surat-suratan sama kamu".
RIO !?!?!?!?
Diulurkan tangan Rio, kusambut dengan tangan kananku. Dag dig dug serasa mau meloncat jantungku. Hangat kerasa telapak tangannya, tapi ... tanganku? begitu dingin. Sedingin es di puncak gunung Fuji.
Ditinggalkannya kami berdua di ruang tamu. Sedangkan Om Wisnu kembali ke dalam. Aku jadi salah tingkah. Kulirik Rio, kudapati dia pada kondisi yang sama.
¡§Kesini maen, ya¡¨
¡§Ini, ngambil tustel, sekalian pamit besok mau balik ke Surabaya¡¨
¡§Secepat itu? Kamu ¡K¡¨ suaranya terputus karena hpnya berbunyi. ¡§Assalamu ¡¥alaikum ¡K Iya. Ga papa. Saya sama dia. Okey. Wa¡¦alaikum salam¡¨ Kleg. Hp mati seketika. ¡§Kaya¡¦nya kita harus pulang deh¡¨
¡§Kita???¡¨
¡§Iya, aku anter kamu pulang¡¨
¡§Ada apa?¡¨ suara Om Wisnu hadir diantara kami.
¡§Mas, aku harus anter Sinna pulang. Salam buat Ajim dan istri Mas¡¨
¡§Kenapa aku harus ikut kamu pulang? Pulang kemana?¡¨ tanyaku bloon.
¡§Itu tadi telpon dari ortumu. Mereka khawatirin kamu. Ayo, aku boncengin kamu¡¨. Aneh!!! Bagaimana ortuku tahu nomor telpon Rio?
¡§Ya udah, Sin. Biar sepedamu disini, kapan-kapan Om anter ke rumahmu. Tustelnya udah kamu bawa, kan?¡¨
¡§Makasih udah ngrepotin Om¡¨.
Sepeda motor Rio berjalan cepat. Hanya kebisuan yang mengiringi perjalanan kita. Seketika kuingat bahwa di rumah ada ayah Muhsin dan kakak iparnya itu atau Muhsinnya sendiri sudah berada disana? Oooh, jangan sampai Rio bertemu mereka.
¡§Rio, jangan pulang dulu deh. Aku ada perlu?¡¨
¡§Perlu apaan sih? Mending kita pulang dulu, ini kan udah malam¡¨
¡§Di ¡K Di ¡K Di rumahku lagi ngga bisa terima tamu¡¨
¡§Kenapa? Ada tamu selain aku? Acara tunangan?¡¨
HEIGHK¡@HEIGHK¡@!?!?
Kenapa tebakannya jitu banget?
¡§Engg ¡K Enggg ¡K Tapi¡¨. Mesin motor mati dan kusadari aku sudah sudah sampai di depan rumahku. Dalam hatiku berharap semoga Muhsin tak pernah datang ke rumahku.
¡§Lho, bagaimana kalian bisa bersama-sama?. Ucap ayah Muhsin begitu mendapati aku dan Rio masuk bersama. Aduuuh, celaka. Mereka ternyata kenal.
¡§Nak Muhsin, silakan duduk¡¨ ucap ayah.
Muhsin?? Kutoleh kearahnya. Muhsin adalah Rio??? Aku masih melongo dengan kalimat yang baru saja kudengar. Rio menarikku untuk bergabung bersama mereka. Aku masih berada di alam bawah sadarku.
¡§Jadi, bagaimana dengan obrolan kita tadi?¡¨
¡§Kalo kita lihat keduanya, kita sudah tau jawabnya, betul kan, Bu?¡¨ Ibu hanya tersenyum dan manggut-manggut.
¡§Biar lebih jelas, kita tanyakan saja sama yang bersangkutan. Bagaimana Sin?¡¨
¡§Eng ¡K¡¨ aku dan Rio ancang-ancang ambil suara bersama-sama dan seketika tertahan bersama-sama pula.
¡§Maksudku Nak Muhsin¡¨
¡§Saya harap bisa bersama Sinna¡¨
¡§Kamu, Sinna?¡¨
¡§Terserah Bapak sama Ibu saja bagaimana baiknya¡¨
¡§Jadi kamu sudah melepas Riomu itu?¡¨ kalimat ibu membuat semua mata menghakimiku.
¡§Rio itu saya. Nama lengkap saya Effendi Rio Muhsin¡¨.
¡§Oooo ¡K¡¨ semua tersenyum lega. Terutama aku, penantian panjang dan mimpi-mimpi yang kubangun bersama manusia maya itu segera menjadi kenyataan. Sedikit ku terlupa akan keberangkatanku ke Surabaya esok. Yang penting, kini kutemukan dia, Rioku, Muhsinku.

2008年12月23日星期二

Meet Hideaki Taketoshi

Hari itu tanggal 23 dec 2008 pas jolly clown ngadain pesta natal, aku membaur dalam hingar bingar pesta itu. Ini hanyalah pesta instan yang berlngsung secara kilat khusus. One hour only. Tanpa sengaja aku ketemu lagi denganmu. Kamu terdiam dalam keceriaanmu. Aku tahu kamu tak begitu menyukai pesta. Alasanmu, kamu takut nggak nyambung ma peserta pesta. This is a silly reason that only kids did. Hari itu kamu didampingi perempuan cantik berbusana seksi dalam suhu dibawah 10 derajad (diluar). Rambutnya bagus. Katanya cewek Jepang punya rambut bagus karena kebanyakan makan ikan mentah. Hehehe, terang aja mereka makan tuh ikan yang dibungkus rapi dalam sushi. Tar makannya dicocol ma wasabi yang diaduk ma kecap asin. Ini obat mujarap begi penderita flu. Kenapa? Karena setelah sushi masuk mulut_bagi yang tidak tahu teknis makannya_ dia bakal tersedak. Hidung pun mak PRARRRRR. Seperti sendawa sehabis minim cola.
Kembali ke AKI_nama panggilanmu, aku proud ma kamu tuh karena kamu smart, low profile, aktif, dan membaur. Tak masuk akal dengan alasanmu barusan yang takut ga nyambung ma orang lain. Aku paling seneng kalo kamu omong bahasa Jepang yang dimix ma english. Kamu kan ga bisa omong 'l'. Gini misalnya; Do you rike it_do you like it? Aku jadi inget ma temen yang dari Hongkong, Vanessa Tam, logat dia; do you nike it? dia juga ga bisa omong 'l' . Ternyata berbaur ma orang tuh menyenangkan loh, AKI! Kita dituntut ngerti logat mereka. Seperti Mr.Roy yang dari Scotland yang melafalkan 'a' ya 'a' bukan kaya Maria yang pakai logat amrik. Aku akan pedenya pakai style JAWA_ENGLISH!!! Asyik eu.
Aki, karenamu aku bisa bertemu 'dia'_dalam arti tidak langsung. Sayangnya setelah perpisahan kita 2 tahun lalu, baru kemarin lusa kita jumpa lagi. Itu pun kamu dingin. Aku juga berdandan aneh_menurut non muslim tentnya. Aku pakai jilbab yang dibungkus jacket tebal. Persis kaya pepes ikan tenggiri. BULET.
Aki, kapan ya kita deket lagi?

Mengembalikan memorie

Siapa yang patut disalahkan jika REYOG kita diklaim menjadi milik orang lain-dalam arti milik negara lain?



Saya, Nana, sekarang memang tidak berada di tanah air. Itu bisa Anda baca dari blog saya yang memakai nama "risnakorindo" yang berarti risna korea_indonesia. Korea disini bukanlah negara gingseng sana melainkan kota reyog asli, hehehe ... Ini adalah lomba ketiga saya yang saya ketahui setelah waktu mendekati habis. Apakah lomba ini akan berakhir seperti lomba pada bulan oktober 2007 dan 0ktober 2008 lalu? Entahlah ...



Saya sudah terlalau lama meninggalkan kota tercinta saya ini sejak 24 September 2002. Dan selama itu pula hanya info dari adik dan teman yang sedang pulang kampung saja saya bisa menikmati kembali kota kelahiran saya itu. Jujur, saya sangat rindu pada keluarga, teman sepermainan _ kecuali teman sekolah hehehe, ngebel, lapangan Jenangan, SMAZAPO plus guru-gurunya, warung bakso Pak Ji dan masih banyak lagi.



Sudah berapa kali saja saya ketinggalan momen penting yeng terjadi enam tahun terakhir ini. Klasik memang untuk saya ungkapkan, saya terpaksa meninggalkan keluarga demi 'EKONOMI'. Memalukan memang untuk dibicarakan! Ah sudahlah! Toh saya masih dalam tahap mengejar ketertinggallan saya, baik itu pendidikan, info dan tehnologi, ekonomi dan art.




Akhir Desember dua tahun lalu, saya yang di perantauan ikut kelabakan mendengar berita yang yeleneh, Ponorogo kerendem banjir. Alhamdulillah, rumah saya di puncak bukit nun tinggi sekali, so bebas dari banjir. Saya sulit percaya, apalagi lokasinya di daerah tengah ke barat. Kalau di dusun embah saya mah udah biasa kena banjir. Lha ini? Rumah bulik yang berada di jalan Imam Bonjol kerendem separoh. Saya hanya menertawakan _maaf_ itung-itung nggak usah ngecat udah berwarna coklat! Ini adalah Bentuk teguran Tuhan agar kita senantiasa ingat bahwa pada dasarnya kita lahir nggak bawa apa-apa. Kita kembali pada_Nya pun nggak bawa apa-apa _ kelak. Makanya, yang berpunya harap bagi-bagi sama yang ga punya biar adil makmur sentosa- Weleh-weleh kaya ustadhah yang nyalon jadi bupati ajah!



Sebulan kemudian, adik nyang sekolah di IPB_Bogor ngasih info nyang ga kalah heboh.


REYOG DI KLAIM JADI KESENIAN ASLI MALAYSIA.


Lho, kok bisa? Ya, bisa. Apa sih yang ga bisa di dunia ini? Tunggu! Jangan asal cari kambing hitam, cari kambing coklat aja yang udah ga laku saat hari qurban lalu. Gini, kita klarifikasi dulu akar permasalahnya.



Menurut hemat saya yanghanya bisa melihat dari jauh, ini adalah efek dari keteledoran kita. Rupanya benar kata Pak Utomo guru matematika SMAZA yang dari Tulung Agung itu. Kita nggak akan bangga pada kesenian kita kalo kita belum meninggalkan Ponorogo. Lha beliau saja yang notabenenya suami dari perempuan Ponorogo saja bangga kok, kenapa kita yang asli dlondonnge warrok kok ga bangga? Sungguh suatu yang sia-sia!
Kenapa? Karena kita sudah biasa dengan pertunjukan reyog, acara grebeg suro dan pernak pernik Ponorogo lainnya. Semestinya kita melakukan apaaaaaaaaaa gitu! (apaan sih maksudnya 'apa' itu?) Misalnya saja gebrakan yang dilakukan oleh Bapak Hariadi(guru fisika) dalam membentuk JATIL GANESHA SMAZA GROUP (ini namanya ngarang_tapi memang group jatil ini pernah saya lihat dengan mata kepala sendiri di tahun 2000-3003). Beliau ingin 'membersihkan' citra jatil dengan cara hanya memperbolehkan jatil-jatil Ganesha tampil di forum-forum yang 'bersih' dan 'tempat terhormat'. Boleh juga kita tengok http://www.manggoloputro.co.nr/ yang merupakan tempat ngumpul dlondonge warok di Bogor yang sregep ngadain acara-acara yang ngusung Kesenian kita ini tampil di Bogor. Tanggapan pemerhati kesenian dan warga setempat ruarrrrrr biasa. Mereka terkagum-kagum dengan REYOGnya, jatilnya, sate kambingnya, jarik batiknya dan pada mahasiswanya yang begitu mencintai satu-satunya seni 'aneh' di dunia ini. BRAVO!!!
(Menang atau tidak menang suatu lomba_apalagi lomba ngeblog_ tidaklah suatu mas-lah besar dalam diri saya. Toh, tak akan berpengaruh besar pada pekerjaan saya sekarang yang sama sekali tidak menuntut keahlian 'memegang' komputer atau ahi ngenet.)
Saya cuma mau nitip salam buat temen seperjuangan di kelas 1.7 dan 2.7 yang sekarang ada di dinas pariwisata Ponorogo, Indra_anak Jetis. Semangat, Friend!!!
Sekarang, Saya tetaplah saya yang sering ketinggalan info dan telat mengetahui adanya suatu perlombaan. Seperti tahun lalu dimana sebelum grebeg suro _di forum 'cah ponorogo'_ Saya membaca adanya lomba bikin logo. Saya berminat dan hanya sampai disitu tindakan saya. Oleh karena itu, saya berharap pada pembaca sekalian hendaklah memberi info pada Saya akan adanya lomba yang berhubungan dengan dunia tulis menulis.
Saya terpompa dari sanjungan guru bahasa Indonesia saya sewaktu di SMP N 5 Ponorogo, Bapak Indarto Bandono, yang merangkap menjadi wartawan suatu lembaga penyiaran via kertas. Waktu kelas tiga (beliau mengajar saya di kelas 2 dan 3 SMP), beliau membimbing kami, kelas 3 Pl.B, membuat suatu makalah tentang kistrik dan dampaknya. Dari satu kelas, saya berhasil masuk menjadi satu-satunya tulisan yang memenuhi syarat untuk di sebut makalah. Beliau menghadiahi saya sebuah buku_maaf judulnya lupa yang pernah saya pinjamkan pada Indra sebelum mengikuti lomba ayu-ayunan se_ponorogo_ dimana buku itu menceritakan asal muasal REYOG, tempat-tempat asyik di ponorogo dan Ponorogo itu sendiri. Rupanya buku itu dilahirkan oleh 5 penulis hebat yang berdomisili di Ponorogo dan mereka berprofesi sebagai wartawan. KEREN, loh!
Jika beliau sendiri yang membaca tulisan ini, juga guru-guru di SMAZA, saya menghaturkan; terimakasih yang tak terhingga wahai para pahlawan tanpa jasaku!

2008年12月19日星期五

Kabar-kabari

Na,
Pa kabar? Lama nggak ketemu kamu lagi. Gue kangen ma loe. Gue tuh slut ma loe nyang rela meras tenaga loe wat ade-ade loe sekolah. Gue tau, ntuh hanya sebagai pelampiasan loe nyang ga bisa sekolah lagi selepas SMA. Gue cuman bisa ngasi saran, loe jangan maksain cita-cita loe ma ade-ade loe. Gue minta loe aja nyang nggapai cita-cota loe sendiri. Meski bersakit sakit dahulu, gue yakin masa dewasa loe bakal makmur. Ini hanya kata klise nyang gue dapat dari orang yang notabenenya kenyang asam garam dunia. Kalo toh nanti jalan loe kaya apa, yang jelas loe udah berusaha. Orang nyang gagal setelah berusaha dan tidak putus asa, bakal dinaikin derajadnya sama Dia. Derajad yang dikasih Dia ga bakal ada yang bisa nyopot, Na!
Kuncinya hanya ada pada diri loe. Loe musti optimis bahwa loe bisa! Jangan lupa berusaha sampai titik darah penghabisan, plus doa. Ini adalah rem yang bisa jaga loe seandainya loe ada apa-apa di tengah jalan.
Na,
Gue ada dikit kabar nyang mungkin bikin loe kaget. Tapi gue tau, hal ini udah loe antisipasi sejak dulu. Benar, Mas Pendik udah balik ke Indo. Dan satu lagi fakta yang agak susah gue ungkap, em ... em ... em Mas Pendik udah nikah. Kabar ini sebenarnya gue tahu dari orang lain. Gue belum survei langsung di tempat kejadian. Hanya saja sumber berita adalah sobat Mas Pendik saat di Japan dulu. Katanya, masih katanya, dia udah nikah dan sekarang nguli di Korsel. Sedang bininya, mbabu di Hong Kong.
Na,
Gue pikir orang nyang loe bangga-banggain tuh punya gebrakan. Ternyata sama aja dengan cowok-cowok lain. Menikah dan meninggalkan orang yang dinikahi hanya untuk mengejar materi. Sapa sih yang ga butuh materi hidup di dunia ini. Tapi, jangan materi semata yang diagung-agungkan. Mustinya kita punya target cukup. Kita punya hidup seteh hidup!
Na,
Sampe disini dulu. Gue mo pindah di kompeter room sebelah kanan lift. C U!
Jya, sayonara.